Dengarlah! Ini Mimpi Anak di Perbatasan Tiga Negeri Anambas

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Senin, 11 Mei 2020 10:39 WIB
BRI Anambas
Foto: Okta Marfianto/20detik
Anambas -

Tidak semua orang lahir dalam keadaan serba ada. Namun, semua orang punya kesempatan yang sama untuk bermimpi dan merasakan bahagia. Seperti hal nya anak-anak yang tinggal di perbatasan tiga negara antara Malaysia, Vietnam dan Thailand, tepatnya di Kabupaten Kepulauan Anambas, tentunya di Indonesia.

Jauh di perbatasan Laut China Selatan tersebut, ada cerita yang sungguh menginspirasi. Tentang sebuah mimpi mulia anak negeri. Sebuah cita-cita yang mungkin asing di dengar dari generasi alfa saat ini, tapi tidak demikian bagi Muhammad Irsan.

Perawakannya boleh saja kecil, tapi mimpi bocah 10 tahun ini begitu besar. Ican biasa disapa menceritakan keinginannya saat jam istirahat sekolah di pintu masuk dermaga Pulau Telaga Kecil yang memiliki penghuni tidak lebih dari dua ratus penduduk.

"Saya mahu menjadi AL (Angkatan Laut) om," ucap Ican sambil berbisik saat ditanya perihal cita-citanya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Begitu mendengar hal ini, rasa penasaran soal tekad itu mengalahkan rasa pusing akibat menerjang gelombang lautan dari Pulau Jemaja Letung ke Pulau Telaga Kecil yang menghabiskan waktu perjalanan sekitar 3 jam. Rupanya ia ingin menjaga kedaulatan laut Anambas.

"Jadi AL supaya bisa menjaga laut Anambas dari pompong tak dikenal (perahu asing)," imbuh dia dengan logat melayu yang khas.

BRI AnambasBRI Anambas Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom

Keadaan geografis wilayah Kepulauan Anambas ditinjau dari aspek geopolitik maupun geoekonomi memang sangat strategis. Terlebih berbatasan langsung dengan tiga negara tetangga seperti Malaysia, Thailand dan Vietnam. Tak heran kapal-kapal asing kerap mencuri ikan di perairan Anambas.

Bahkan menurut salah satu nelayan lokal dari Pulau Bayat, Maspani, kapal-kapal asing kerap ditemui di puluhan mil timur Anambas. Itu berbatasan langsung dengan Laut China Selatan dan perairan Natuna.

"Selama saya pancing ikan, pernah jumpa juga dengan pompong Thailand di timur Anambas, pompongnya besar itu sering curi ikan-ikan kita," kata Maspani.

Indonesia sendiri memiliki hak kedaulatan di perairan tersebut. Hal ini sesuai dengan ketetapan United Nations Convention for The Law of The Sea (UNCLOS), atau dikenal Konvensi Hukum Laut PBB pada 1982. Di mana segala sumber daya laut dan isinya berhak dieksploitasi oleh Indonesia.

Kesadaran soal pentingnya menjaga kedaulatan ini mungkin sudah dirasakan oleh anak sekolah dasar seperti Ican. Oleh karena itu Ican bertekad untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi agar mewujudkan mimpinya tersebut. Kini ia rutin menabung mimpinya tersebut dari celengan kaleng.

Kepala SDN 006 Telaga Kecil Asyari Majid mengatakan, kebanyakan penduduk di Desa Telaga Kecil ini berprofesi sebagai nelayan dan sebagian kecil berkebun. Dalam hal menabung, masyarakat menggunakan celengan kaleng sebab akses ke bank di Tarempa butuh waktu sekitar tiga jam.

"Karena itu, selain dari pembelajaran normal dari sekolah, anak-anak kita diajarkan menabung untuk simpanan masa depannya, dan dulunya anak-anak menabung dengan guru kelasnya masing-masing," ungkap Majid.

BRI AnambasBRI Anambas Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom

Kini lain cerita sejak Teras BRI Kapal hadir menjangkau pulau terdepan Anambas pada Februari lalu. Masyarakat tidak lagi kesulitan menabung untuk masa depan, dan mimpi-mimpi anak perbatasan, serta harapan para orang tua. Setiap rupiah mereka ditabung dengan aman dan mudah melalui Simpanan Pelajar (Simpel).

Pemimpin Cabang BRI Kantor Cabang Tanjung Pinang Raden Pandu Bagja Sumawijaya mengungkapkan dengan hadirnya Teras BRI Kapal diharapkan dapat membantu perekonomian masyarakat di pesisir dan kepulauan.

"Kita semua tahu Anambas ini adalah perbatasan negara dengan tiga negara, Vietnam, Thailand dan Malaysia, sehingga dengan Teras BRI Kapal ini BANK BRI diharapkan ikut andil menjaga menjaga kedaulatan rupiah," pungkasnya.

(prf/ega)