Pengamat: Kompol Buruk, Usia Kekuasaan SBY-JK Setahun Lagi
Sabtu, 17 Des 2005 18:23 WIB
Solo -
Pakar Komunikasi, Effendi Gazali, memperingatkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)- Jusuf Kalla (JK) untuk mengubah cara komunikasi politik (kompol) pada rakyat. Jika tidak, paling lama setahun lagi SBY-JK akan kehabisan kepercayaan publik. Selama setahun memerintah, Effendi mencatat ada 14 model kompol yang kurang baik diterapkan oleh SBY dan para menterinya. Model pertama adalah, kompol tergesa-gesa. Dicontohkan Effendi, beberapa menit setelah rombongan presiden menabrak seorang warga hingga tewas, Jubir Istana Kepresidenan Andi Mallarangeng, segera mengeluarkan pernyataan bahwa Presiden tidak bersalah. "Padahal investigasi untuk menghasilkan kesimpulan sebuah kecelakaan tidak akan secepat itu," papar Effendi.Hal ini diungkapkannya, ketika tampil sebagai pembicara bertema 'Demokrasi Ekonomi dan Demokrasi Politik dalam Perspektif Pancasila di Era Otonomi Daerah' yang diadakan oleh Gerakan Mutiara Pancasila di Gedung Graha Sabha Buwana, Solo, Sabtu (17/12/2005).Kedua, kompol interpretasi tak terkira. Contohnya SBY mengatakan I don't care (about) my popularity, padahal dia terpilih dalam konteks popularitas. Ketiga, kompol asal ngikut, mantan Menkeu Jusuf Anwar juga mengatakan I don't care ketika Depkeu disebut terbanyak dijangkiti korupsi. "Ketika rupiah meluncur dia bilang, 'Don't worry be happy'," tambah Effendi.Keempat, kompol lihatlah daku. "Masa Anda tidak yakin saya bekerja keras. SBY mengatakakan, 'lihatlah mata saya ini kurang tidur'. Padahal kurang tidur atau bukan bagi seorang presiden bukan urusan rakyat, bagi rakyat yang penting adalah mandapatkan minyak dengan mudah dan murah," papar Effendi.Kelima, kompol hilang empati. Yaitu ketika mantan Menko Perekonomian Aburizal Bakri mengatakan: 'Kalau tidak bisa beli elpiji ya pakai minyak tanah saja'. Keenam, kompol hilang logika yaitu ketika Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro mengatakan, 'Wajar beli minyak tanah antri, wong nonton bioskop saja antri'.Ketujuh, kompol hobi baru tapi salah tempat, biaya dan konteksnya yaitu ketika SBY menggelar teleconference dari AS dengan biaya Rp 700 juta di saat warga kesulitan mencari BBM. Disambung yang kedelapan adalah kompol cari-cari masalah baru. Yaitu ketika Seskab mengatakan, biaya teleconference ditanggung Presiden secara pribadi.Kesembilan adalah kompol ini dadaku mana dadamu. Terlihat ketika Wapres Jusuf Kalla menantang, 'lain dengan di luar negeri, yang punya tunjangan sosial. Mogok di sini, kalau gak kerja ya gak makan, nanti juga berhenti sendiri.' Kesepuluh, kompol lihatlah daku (babak II) ketika SBY mengatakan, 'Saya sering sekali shalat tahajud memikirkan (dan mendoakan) bangsa ini.'Kesebelas, kompol pakai batasan jam siar dan pakai iklan beres. Ini dilakukan Menkominfo Sofyan Jalil. Selain itu juga membuat iklan layanan pemerintah sekaligus gabungan akademisi dan tokoh agama.Keduabelas, kompol tidak paham cara berpikir ilmiah, yaitu ketika wapres mengatakan, 'Pemerintah tidak dijalankan atas hasil polling 1.300 responden, itu tidak mencerminkan seluruh rakyat.' "Padahal kalau metodologinya benar, itu cerminan seluruh rakyat Indonesia," kata Effendi.Selanjutnya, yang ketigabelas adalah kompol asal sembur yaitu ketika Wapres mengatakan kita perlu mengambil sidik jari di pesantren-pesantren. Terakhir, keempatbelas adalah kompol tipis telinga ketika Presiden SBY dan Wapres JK mengatakan pengritik harus obyektif, jangan menjelek-jelekkan bangsa sendiri."Kesemuanya itu model komunikasi politik salah dan harus segera disadari Pemerintah SBY - JK berserta para pembantunya," tegas Effendi. Effendi menjelaskan, jika SBY - JK tetap mempertahankan komunikasi politik seperti yang dipaparkannya tadi, maka paling lama setahun lagi akan bisa bertahan."Mereka harus segera menyadari dan kembali ke model komunikasi politik yang baik. Sebab saya kira paling lama setahun lagi dia akan kehilangan kepercayaan. Mereka akan terus menciptakan musuh-musuh baru dan akan terus terdelegitimasi karenanya," demikian Effendi Gazali.
(ahm/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































