Peneliti EOCRU Sebut Indonesia Belum Punya Kurva Epidemi COVID-19

Rahel Narda C - detikNews
Minggu, 10 Mei 2020 01:38 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginginkan agar kurva kasus virus Corona (COVID-19) turun di bulan Mei. Tim Peneliti Eijkman-Oxford Clinical Research Unit (EOCRU) menuliskan, hingga saat ini Indonesia belum menampilkan kurva epidemi COVID-19 yang sesuai dengan standar ilmu epidemiologi.

Tim EOCRU itu terdiri dari Peneliti EOCRU Iqbal Elyazar, Ahli Statistik EOCRU Karina Dian Lestari, mahasiswi doktoral Nuffield Department of Medicine University of Oxford Lenny Lia Ekawati, dan epidemologis EOCRU Rosa Nora Lina. Dalam tulisan yang dipublikasikan di laman The Conversation pada Jumat (8/5/2020), mereka meragukan adanya klaim terjadinya penurunan kasus baru COVID-19.

"Masalah utamanya, sudah 68 hari setelah kasus pertama COVID-19 diumumkan, Indonesia belum menampilkan kurva epidemi COVID-19 yang sesuai dengan standar ilmu epidemiologi," tulis tim EOCRU, yang dikutip detikcom pada Sabtu (9/5).

"Karena itu, adanya klaim terjadinya penurunan kasus baru COVID-19 cukup meragukan," sambungnya.

Menurut Tim Peneliti EOCRU, hingga 8 Mei 2020, pemerintah Indonesia hanya menampilkan kurva harian kasus COVID-19. Mereka mengatakan jumlah kasus konfirmasi harian tidak sama dengan jumlah kasus baru.

"Angka jumlah kasus harian yang dilaporkan tidak bisa menjelaskan laju infeksi harian pada hari sebelumnya. Dengan kata lain, turunnya angka kasus harian itu tidak bisa langsung dibaca sebagai turunnya laju infeksi harian," tulis tim Peneliti EOCRU.

Dalam keterangannya, Tim Peneliti EOCRU mengatakan jarak waktu saat pengambilan sampel dan hasil pemeriksaan juga menjadi faktor yang mempengaruhi kurva epidemi Corona. Menurutnya, hingga saat ini pemerintah juga masih belum memberikan informasi kepada publik terkait waktu yang diperlukan dalam pemeriksaan sampel.

"Ada faktor lain yang sangat berpengaruh di situ, yaitu lamanya jarak waktu antara sampel diambil dengan hasil pemeriksaan dilaporkan kepada Kementerian Kesehatan. Sejauh ini publik belum mendapatkan informasi berapa rata-rata waktu pemeriksaan sampel dari 37 laboratorium PCR yang telah difungsikan memeriksa sampel COVID-19," sebutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2