UNHCR Ciao dari NTT 31 Des
Sabtu, 17 Des 2005 10:44 WIB
Jakarta - Setelah 6 tahun mengurus sekitar 225.000 pengungsi Timor Leste, Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) akan meninggalkan NTT pada 31 Desember.Hal ini disampaikan Jubir UNHCR Ron Redmond dalam jumpa pers di Palais des Nations di Jenewa, Jumat 16 Desember waktu setempat, seperti dilansir dalam situsnya www.unhcr.ch, Sabtu (17/12/2005).Dituturkan Redmond, ketika terjadi kerusuhan tahun 1999, sekitar 250.000 orang meninggalkan Timor Timur menuju NTT. Selain itu ada juga yang mengungsi ke hutan dan pegunungan di wilayah Timtim.Di luar repatriasi secara sukarela dari sebagian besar pengungsi, UNHCR juga membantu 28.000 orang yang memilih menjadi warga negara Indonesia dan tetap tinggal NTT."Fokus upaya kami ketika itu adalah mencari solusi jangka panjang bagi para pengungsi, dan kini tugas itu sudah selesai," kata Redmond.3 Staf TerbunuhMeski akan segera meninggalkan NTT, namun peristiwa terbunuhnya 3 staf UNHCR dalam kerusuhan di Atambua 6 September 2000 akan selalu ada dalam kenangan UNHCR.Apalagi peristiwa itu sempat menghentikan operasi, bahkan staf UNHCR dievakuasi dari NTT. Operasi baru dilanjutkan lagi pada awal tahun 2002 setelah bekerjasama dengan aparat keamanan Indonesia dan pemerintah daerah NTT.Sedangkan tantangan yang dihadapi UNHCR, tutur Redmond, adalah 4.500 anak-anak Timtim yang terpisah dari orangtuanya. Masalah itu baru dapat diatasi pada akhir tahun 2004."Sebagian besar bisa kembali berkumpul dengan orangtuanya. Sebagian lainya tetap berada di Indonesia untuk melanjutkan pendidikan, namun dengan sepengetahuan orangtua mereka," papar Redmond.
(sss/)











































