Viral Dukhan Tanda Kiamat, Ustaz Adi Hidayat Ingatkan Jangan Asal Percaya

Rosmha Widiyani - detikNews
Jumat, 08 Mei 2020 15:24 WIB
Couple of glowing Moroccan ornamental lanterns on the table. Greeting card, invitation for Muslim holy month Ramadan Kareem, festive blue night background with glittering golden bokeh lights.
Foto: Getty Images/iStockphoto/Tabitazn/Viral Dukhan Tanda Kiamat, Ustaz Adi Hidayat Ingatkan Jangan Asal Percaya
Jakarta -

Viral dukhan dan tanda kiamat di 15 Ramadhan 2020 memberikan pelajaran bagi para muslim. Salah satunya adalah jangan asal percaya pada segala informasi dan isu yang beredar.

"Patut dicatat dan digarisbawahi, sumber pengetahuan kita dalam beragama dan turunan semua konteksnya, misal ibadah atau muamallah. Serta semua disiplin kehidupan selalu didasarkan dalam nilai-nilai pengetahuan yang ketat," ujar Ustaz Adi Hidayat lewat channel YouTube Aku Suka 14 Ramadhan Spsial Edition-Isu Dukhan dan Benturan Asteroid.

Menurut Ustaz Adi Hidayat, Al-Qur'an telah memberikan rincian pengetahuan yang tegas. Rincian ini mengingatkan tiap muslim tidak langsung percaya, serta memastikan terlebih dulu kebenaran informasi.

"Anda hanya akan temukan rincian yang tegas seperti ini dalam Al-Qur'an. Ini juga membuktikan tradisi muslim dan Islam yang ketat dalam menilai pengetahuan," kata Ustaz Adi Hidayat.

Berikut rincian ayat kaidah ilmu selektif, yang mengingatkan tiap muslim memeriksa kebenaran informasi.

1. Al-Qur'an surat Al-Isra ayat 36

Berikut uraian ayat lengkapnya

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا

Arab latin: Wa lā taqfu mā laisa laka bihī 'ilm, innas-sam'a wal-baṣara wal-fu`āda kullu ulā`ika kāna 'an-hu mas`ụlā

Artinya: Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Ayat tersebut mengingatkan muslim jangan mengikuti sesuatu yang tak memiliki dasar pengetahuan. Semua ajakan, berita, informasi, dan himbauan harus jelas dulu kebenarannya sebelum diikuti.

Manusia bisa menggunakan sumber pengetahuan dari pendengaran, penglihatan, dan pikirannya untuk mengetahui kebenaran isu. Allah SWT mengingatkan, sumber pengetahuan ini nantinya akan dihisab jika muslim bersikap tanpa mengecek dulu validitas informasi.

"Semua aktivitas harus punya dasar ilmunya," kata Ustaz Adi Hidayat.

2. Al-Qur'an surat Al-Hujurat ayat 6

Berikut uraian ayat lengkapnya

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ

Arab latin: Yā ayyuhallażīna āmanū in jā`akum fāsiqum binaba`in fa tabayyanū an tuṣībụ qaumam bijahālatin fa tuṣbiḥụ 'alā mā fa'altum nādimīn

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Ayat tersebut dibuka dengan kata 'iman' atau 'amanu' yang berarti ditujukan pada semua pemilik iman tanpa kecuali. Iman seseorang dipertaruhkan dalam ayat yang bisa berisi perintah, larangan, atau berita normatif.

Orang yang beriman sudah selayaknya melakukan pengecekan terhadap segala informasi. Tradisi mengecek kebenaran informasi inilah yang kemudian dilakukan para ulama. Misal dalam ilmu hadist, yang semua keterangannya harus dicek benar hingga melahirkan sistem kualifikasi yang dipercaya para muslim.

"Dengan selalu mengecek dan memeriksa kebenaran, maka semua informasi dari sudut pandang agama validitasnya bisa dipertaruhkan. Kita pun harus menerjemahkan apa yang Allah SWT perintahkan, yaitu selalu mengecek kebenaran," kata Ustaz Adi Hidayat.

3. Al-Qur'an surat An-Nahl ayat 43

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُّوحِىٓ إِلَيْهِمْ ۚ فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Arab latin: Wa mā arsalnā ming qablika illā rijālan nụḥī ilaihim fas`alū ahlaż-żikri ing kuntum lā ta'lamụn

Artinya: Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.

Ayat tersebut mengingatkan segera bertanya pada yang ingat atau mengetahui, jika mendapat informasi yang masih diragukan kebenarannya. Kata żikri atau dzikir bisa mengacu pada doa, sholat, bacaan setelah sholat, membaca atau menghafal Al-Qur'an.

Kata dzikir juga bisa mengacu pada ilmu pengetahuan, seperti yang disebut dalam Al-Qur'an surat Ali-Imran ayat 190-191. Mereka yang mengamati berbagai hal yang terjadi di langit dan bumi, disebut sebagai orang-orang yang berdzikir. Mereka yang berdzikir kemudian disebut ulil albab atau orang-orang berilmu.

Ayat tersebut mengindikasikan untuk mengecek dan mengetahui kebenaran informasi kepada para ahli. Segala hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan harus dikembalikan pada pakarnya, sehingga terhindari dari berita yang belum tentu benar.

Dengan penjelasan ini, maka tiap muslim diingatkan tidak boleh langsung percaya atau mengakui kebenaran informasi tanpa mengecek lebih dulu kebenarannya. Dengan selalu mengikuti informasi yang benar, tiap orang bisa bersinergi dalam aman sholeh dan terhindar dari hoax.

(row/erd)