BPIP Sebut Eksploitasi di Kapal China sebagai Perbudakan: Usut Tuntas!

Danu Damarjati - detikNews
Kamis, 07 Mei 2020 19:35 WIB
Romo Benny Susetyo CNN IndonesiaSafir Makki
Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP, Antonius Benny Susetyo (Foto: Pool)

Sebelumnya, pemberitaan mengenai eksploitasi ABK di kapal berbendera China ini ramai di Korea Selatan dan akhirnya di Indonesia. Berita itu berasal dari media MBC News, Korea Selatan. Judul tayangan beritanya adalah '18 jam sehari kerja ... jika sakit dan tersembunyi, buang ke laut'.

Ada tiga ABK WNI yang meninggal dunia dan jenazahnya dilarung ke laut. Mereka yang meninggal dunia, disebutkan MBC News, bernama Ari (24), Alfata (19) dan Sepri (24). ABK awalnya mengeluh ke rekannya, bahwa dia merasakan mati rasa dan bengkak pada kakinya, sulit bernapas, dan akhirnya meninggal dunia.

Para ABK memberi kesaksian, kondisi di kapal itu buruk dan eksploitasi tenaga kerja terus terjadi. Para ABK disuruh bekerja 18 jam sehari. Pelaut Indonesia mengaku terkadang harus berdiri bekerja selama 30 jam, dan baru duduk setiap 6 jam.

Mayoritas pelaut China minum air kemasan, seadngkan pelaut Indonesia minum dari air laut yang sudah disaring dengan baik. Air laut hasil penyaringan itu dirasakan salah satu ABK yang diwawancarai MBC News membuat pusing kepala, juga menimbulkan dahak.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3