Eksploitasi WNI di Kapal China Pembuang Jenazah: Kerja 18 Jam, Minum Air Laut

Danu Damarjati - detikNews
Kamis, 07 Mei 2020 14:47 WIB
3 Jenazah ABK WNI yang Dilarung ke Laut Disebut Idap Penyakit Menular
Foto: Tangkapan layar
Jakarta -

Kapal penangkap ikan dari China disorot karena membuang jenazah anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia (WNI). Kapal tersebut diduga melakukan eksploitasi terhadap para pekerjanya.

Kapal itu bernama Long Xing 629. Tiga jenazah WNI dilarung ke laut dari kapal itu. Sebanyak 15 ABK WNI dari kapal tersebut berhasil mencapai Busan Korea Selatan (Korsel), namun salah satu dari mereka meninggal. Sebanyak 14 WNI sisanya kini sehat dan menjalani masa karantina virus Corona di Korsel.

Dua lembaga nonpemerintah mengadvokasi para WNI ini, yakni Yayasan Keadilan Lingkungan (EJF) dan Advokat untuk Kepentingan Publik (APIL). EJF merilis keterangan di situs mereka, Kamis (7/5/2020).

EJF menyampaikan para ABK dari Indonesia itu melaporkan telah terjadi pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di kapal itu. Bentuk eksploitasi manusia atas manusia ini adalah ini adalah kekerasan fisik, bekerja 18 jam per hari.

Para WNI, termasuk empat orang yang sudah meninggal, bekerja di kapal Long Xing 629 sejak awal 2019. ABK WNI pertama meninggal dunia pada 21 Desember, ABK WNI kedua meninggal dunia beberapa hari setelahnya setelah dipindahkan ke kapal lain (sister vessel), yakni dari Long Xing 629 ke Long Xing 802.

Pada akhir Maret, semua nelayan dipindahkan ke dua kapal lain lagi untuk sandar ke Busan, Korsel. ABK WNI ketiga meninggal dunia saat dalam perjalanan di Tian Yu, China. ABK WNI keempat meninggal dunia saat sudah mencapai Busan, Korsel.

Penyintas kapal pembuang jenazah melaporkan bahwa para korban mengalami bengkak-bengkak, sakit di dada, dan kesulitan bernapas selama beberapa pekan. Kapten kapal dilaporkannya menolak sandar ke pelabuhan supaya para WNI mendapat pertolongan medis. Kapal tetap berada di lautan selama setahun tanpa sandar di pelabuhan.

Penjelasan Dubes RI di Korsel Soal Dugaan Eksploitasi ABK WNI:

Selanjutnya
Halaman
1 2 3