Bupati Boltim: Bupati Lumajang Bilang 'Kerja, Kerja', Opo e?

Jabbar Ramdhani, Angelica Rawis - detikNews
Kamis, 07 Mei 2020 07:44 WIB
Geger Bupati Boltim Marah dan Maki-maki ke Menteri Gegara BLT
Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sehan Salim Landjar (Foto: Medsos)
Manado -

Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sehan Salim Landjar, angkat bicara soal Bupati Lumajang, Thoriqul Haq, yang mengomentarinya saat mengkritik bantuan pemerintah pusat kepada masyarakat yang terdampak pandemi Corona (COVID-19). Sehan mengatakan tindakan Thoriq tidak pantas.

"Saya kan kritik menteri atas urusan rakyat saya. Saya dipilih warga Boltim, dia dipilih rakyat Lumajang. Nggak pantas kan. Saya marah ke menteri karena ada aturan tak sesuai daerah saya," kata Sehan saat dihubungi detikcom, Rabu (6/5/2020).

Sehan mengatakan sama sekali tidak menyinggung bupati manapun termasuk Thoriq selaku Bupati Lumajang. Dia mengkritik pemerintah karena ada kebijakan yang tidak sinkron antara menteri yang satu dengan yang lain.

Pertama dia menyorot Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Abdul Halim Iskandar, yang pernah mengeluarkan surat meminta daerah hanya menggunakan Dana Desa untuk padat karya. Sehan mengatakan Pemkab Boltim saat itu sudah melakukan realokasi anggaran untuk penanganan COVID-19 yang salah satunya berasal dari Dana Desa.

Saat itu Pemkab Boltim ingin membeli persediaan makanan untuk masyarakat selama tiga bulan dalam menghadapi masa pandemi Corona. Namun setelah surat Mendes turun, rencana tersebut ditunda.

"Beras premium 600 ton beras premium kualitas 1, kemudian 60 ton gula pasir, 60 ton minyak kelapa, 109 ribu kaleng ikan kaleng. Ini akan dibagikan ke 20 ribu kepala keluarga dari penduduk kami sebanyak 28.753 KK," kata dia.

"Makanya kita persiapkan anggaran dan langsung tanggal 25 (Maret) berbicara dengan pihak Bulog. Saat terjadi order dengan Bulog muncul surat Menteri Desa nomor 8, di mana intinya Dana Desa hanya untuk padat karya, tidak untuk macam-macam. Sehingga rencana kita pakai Dana Desa batal setelah surat itu turun," sambung Sehan.

Setelah itu, lanjutnya, keluar surat Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian yang meminta kepada desa menggeser Dana Desa untuk kepentingan COVID-19 termasuk kebutuhan sosial dan sembako. Tak selang berapa lama, Mendes mengeluarkan lagi surat yang isinya Dana Desa bisa dipakai untuk padat karya dan BLT.

Sehan juga mengkritik soal mekanisme pemberian BLT dari Kementerian Sosial (Kemensos). Dia mengatakan mekanisme penyaluran bantuan dari Kemensos tidak efisien karena tiap warga harus membuka rekening untuk menerima bantuan.

Lihat video Heboh Bupati Boltim Marah dan Memaki Menteri terkait BLT dan Sembako: