Jokowi Ingin Kurva Kasus Corona Turun di Mei, Menurut Para Ahli Bisa!

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Rabu, 06 Mei 2020 19:26 WIB
Poster
Ilustrasi Corona di Indonesia (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginginkan agar kurva kasus Corona di Indonesia turun pada Mei. Menurut pemodelan dari para ahli, keinginan Jokowi bisa tercapai asalkan semua mematuhi aturan physical distancing.

Ada beragam pemodelan matematis yang mendukung keinginan Presiden Jokowi. Pemodelan-pemodelan ini dihasilkan dari data perkembangan kasus Corona di Indonesia pada Maret dan April.

Bahkan pemodelan-pemodelan ini memperkirakan pandemi Corona di Indonesia akan berakhir pada Mei. Ada pula yang memperkirakan kasus Corona juga akan melambat pada bulan itu.

Berikut ini beberapa pemodelan tersebut:

Pandemi Corona Berakhir 29 Mei 2020

Pakar statistika dan alumni MIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) memprediksi pandemi virus Corona di Indonesia bakal berakhir Mei 2020. Analisis ini mengembangkan dari pemodelan teori antrean.

"Dari hasil analisis, pandemi COVID-19 akan berakhir pada 29 Mei 2020 dengan minimum total penderita positif di sekitar 6.174 kasus. Dengan intervensi pemerintah yang berhasil dengan baik, total penderita Corona positif minimal di sekitar 6.200 di akhir pandemi pada akhir Mei 2020," kata guru besar statistika UGM Prof Dr.rer.nat Dedi Rosadi, SSi, MSc, dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom dari Humas UGM, Rabu (1/4/2020).

Pemodelan matematika ini dilakukan Dedi bersama Heribertus Joko dan Dr Fidelis I Diponegoro. Model yang dibuat dinamai model probabilistik yang berdasarkan data nyata atau probabilistik data-driven model (PDDM). Dengan model ini, diperkirakan penambahan maksimum total penderita virus Corona setiap harinya di sekitar minggu kedua April 2020, sekitar 7-11 April 2020.

"Penambahan lebih-kurang 740-800 pasien per 4 hari dan diperkirakan akan terus menurun setelahnya," jelas dosen FMIPA ini.

Mengacu pada data yang ada, pandemi Corona ini bakal berakhir sekitar 100 hari setelah 2 Maret 2020 atau sekitar 29 Mei 2020.

Dengan model ini, diprediksi pertengahan Mei 2020, penambahan total penderita sudah relatif kecil. Meski begitu, Dedi meminta warga tidak mudik Lebaran. Selain itu, menurutnya, kegiatan tarawih di masjid selama Ramadhan juga sebaiknya ditiadakan.

Dedi mengklaim, berdasarkan model PPDM, rata-rata eror kesalahan prediksi selama dua minggu terakhir hanyalah sebesar 1,5 persen. Setelah diujikan prediksi selama empat hari terakhir sejak Kamis (26/3) model ini ternyata sangat akurat, dengan eror yang dihasilkan selalu di bawah 1 persen.

"Eror maksimum sebesar 0,9 persen dan minimum 0,18 persen," ucapnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3