Soal Gate di Bandara Jeddah, RI Terus Lobi Arab Saudi
Sabtu, 17 Des 2005 03:05 WIB
Madinah - Salah satu masalah terkait penyelenggaraan ibadah haji yang dipersoalkan DPR adalah hanya disediakannya satu gate (pintu masuk) bagi Indonesia di Bandara Jeddah, Arab Saudi. Hal ini mengakibatkan antrenya jamaah haji masuk ke bandara. Pemerintah Indonesia sedang dan terus melobi pemerintah Arab Saudi terhadap hal ini.Bayangkan, Indonesia memberangkatkan warganya untuk berhaji setiap tahun sekitar 205.000 orang. Ini jumlah tertinggi di dunia. Namun, ironisnya, pemerintah Arab Saudi hanya menyediakan 1 gate di Bandara Jeddah untuk jamaah haji Indonesia. Kondisi ini disamakan dengan negara-negara lain yang jumlah jamaah hajinya sangat kecil dibandingkan Indonesia.Masalah ini telah dipikirkan Konsulat Jenderal (Konjen) Jeddah. "Saat ini kami sedang dan terus melakukan lobi," kata Konsul Jenderal Jeddah Tajuddin Noor kepada saat berbincang-bincang dengan wartawan di Kantor Daerah Kerja (Daker) Madinah, Jl. Mathar, Madinah, Jumat (16/12/2005).Menurut Tajuddin, pemerintah Arab Saudi menerapkan aturan pemberian gate ini sama terhadap semua negara."Ibarat di PBB, pemilihan one state one vote. Negara RRC yang memiliki penduduk miliaran, hanya memiliki 1 suara sama dengan negara yang penduduknya kecil," kata Tajuddin.Meski begitu, pemerintah Indonesia akan terus melakukan lobi terkait hal ini. Tajuddin berharap pada puncak hari kepulangan jamaah, pada H+1 sampai H+7, ada tambahan gate untuk jamaah Indonesia.Namun, bila nanti tetap ada 1 gate di bandara Jeddah, maka pemerintah akan memberlakukan 'kendali gerak' dalam pemulangan jamaah haji. Ini untuk mengantisipasi antrenya jamaah haji di bandara. Maksudnya, jadwal pemulangan jamaah haji dari Makkah akan terus ditinjau dalam waktu tertentu dikaitkan dengan kondisi di bandara Jeddah.Pemondokan di AziziyahSementara saat disinggung semakin jauhnya pemondokan jamaah haji Indonesia di kawasan Aziziyah, Tajuddin menjelaskan tentang arti 'jauh' itu. Isu yang beredar, pemondokan jamaah haji Indonesia di Aziziyah kini semakin jauh dari Masjidil Haram, ada yang sampai 5-6 km. Padahal, tahun lalu, pemondokan terjauh hanya 3-4 km.Bagi Tajuddin, untuk mengukur jauh dan dekat itu, haruslah diukur dari tiga faktor, yaitu geografis, jarak tempuh, dan kenyamanan jamaah untuk beribadah. "Jarak 100 meter dengan berjalan kaki bisa lebih jauh dibandingkan jarak 200 meter tapi naik kendaraan," kata Tajuddin.Menurut dia, jamaah haji yang mendapat pemondokan yang jauh, tentu akan diberikan layanan transportasi. "Nanti akan dibuat semacam Satuan Kendali Transportasi Jamaah," kata Tajuddin.
(mar/)











































