Mantan PSK Ini Bersyukur Gang Dolly Ditutup Risma, Ini Kisahnya

Inkana Putri - detikNews
Selasa, 05 Mei 2020 12:55 WIB
Satpol PP menyegel kafe-kafe di lokalisasi Gang Royal, Penjaringan, Jakarta Utara, Senin (10/2/2020). Penyegelan ini buntut dari kasus prostitusi di Kafe Khayangan yang mempekerjakan ABG sebagai PSK.
Ilustrasi/Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Gang Dolly, pusat lokalisasi terbesar dan terkenal di Asia Tenggara, akhirnya ditutup oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini 6 tahun silam. Semenjak ditutupnya Gang Dolly, banyak para PSK yang tetap melanjutkan pekerjaan, namun ada juga yang akhirnya berhenti dan memilih cara lain.

Seperti halnya salah satu mantan PSK di Gang Dolly, Eva. Ia mengaku terpaksa masuk ke dunia Gang Dolly karena terlilit utang pada saat itu. Eva yang sudah terlanjur masuk pun cukup sulit untuk keluar dari dunia malam tersebut lantaran telah diberi pesangon oleh pemilik wisma.

"Ya sebenernya sih nggak memilih ke Surabaya, cuma kata temen aku kamu mau cepet utang kamu lunas? Kamu ikut aku kerja gitu. Trus aku ikut sama temen aku, ya ternyata di tempat Dolly itu. Udah dikasih pesangon sama yang punya wisma. Ya intinya terpaksa nggak terpaksa harus disitu," ungkapnya dalam tayangan Mola TV.

Dengan menjalani pekerjaan tersebut, Eva bercerita bagaimana ia bisa dengan mudah melunasi utang-utangnya. Hanya dalam waktu sebulan saja, dengan tarif Rp 150 ribu per jam, Eva sudah mampu melunasi semua utangnya.

"Sekitar seratus lima puluh per jam. Ya paling kita dapatnya seratus, terus yang lima puluh buat kamar sama mbak yang wisma itu. Ya gimana kan saya punya hutang banyak sekitar Rp 12 juta. Tapi sudah beres, itu sebulan kerja sudah beres. Cuma mau keluar masih belum bisa, dalam hati saya kalau utang sudah lunas, mau keluar," ujarnya.

Tidak seperti kebanyakan PSK lainnya, Eva malah justru bersyukur dengan penutupan Gang Dolly. Pasalnya, dengan ditutupnya Gang Dolly ia jadi lebih mudah untuk mengeluarkan diri dari dunia tersebut.

"Karena saya dari awal sudah janji sama diri saya sendiri, kalau saya utangnya udah lunas saya mau berhenti. Kan nggak baik juga kalau orang tua saya denger dia pasti nangis. Saya mah nggak ikut demo, kalau saya bersyukur ditutup," imbuhnya.

Menurut Eva, lebih baik untuk kerja yang halal meskipun penghasilannya tidak seberapa. Asalkan hasilnya memiliki keberkahan.

Penutupan Gang Dolly memiliki cerita tersendiri bagi para orang-orang di dalamnya. Selain Eva ada juga kisah Bang Jarwo, seorang mantan penjual kopi di Gang Dolly yang menolak ditutupnya lokalisasi tersebut.

Semua cerita ini dapat disaksikan dalam acara Blusukan Butet Kartaredjasa: Para Pahlawan dari Gang Dolly di Mola TV. Acara ini dapat dilihat dengan berlangganan paket Corona Care Mola TV. Lewat program ini Mola TV mengajak masyarakat untuk turut peduli melalui Corona Care, sebuah program yang bertujuan untuk membantu pemerintah melawan wabah virus COVID-19 di Indonesia.

Program ini dapat disaksikan juga dengan memberikan sumbangan yang beragam mulai dari Rp 0 hingga Rp 50.000. Nantinya setiap sumbangan tersebut akan digandakan Mola TV dan disalurkan kepada BNPB dan PMI untuk membantu perjuangan melawan wabah virus Corona.

(prf/ega)