Kisah Petani Kayu Putih, Dulu Serba Kekurangan Kini Punya Rumah

Faidah Umu Sofuroh - detikNews
Senin, 04 Mei 2020 09:44 WIB
BRI
Foto: dok. detikcom/Deny Fitrianto
Boyolali -

Menjadi seorang petani rasanya sudah menjadi jalan hidup bagi Sojo. Petani hutan asal Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali ini sudah puluhan tahun menjadi petani hutan di tanah kelahirannya.

Profesi yang kerap dipandang sebelah mata oleh banyak orang ini, tak menghentikannya untuk terus menekuni pekerjaan ini. Ia percaya, bahwa di setiap kesungguhan akan ada jalan kemudahan, harapan, dan rezeki dari yang Maha Kuasa.

"Dari dulu ya sudah jadi petani di sini. Alhamdulillah ya hasilnya mencukupi untuk hidup, memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk istri dan anak-anak. Kan kalau orang bersungguh-sungguh pasti ada jalannya dari Allah," tuturnya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Ratusan petani di Desa Wonoharjo, termasuk Sojo, menggantungkan hidupnya di tanah yang berada di pelataran Waduk Kedungombo ini. Tanah ini memang bukan milik pribadi, terangnya, tapi ia bersyukur diberi keleluasaan untuk mengolah lahan miliki pemerintah ini.

"Kebanyakan petani di sini itu mengelola tanah hutan milik Perum Perhutani. Ada sekitar 433 hektare tanah milik Perum di sini yang dikelola petani. Nah, dari perum ini mewajibkan untuk menanam kayu putih. Jadi kami petani di sini kebanyakan ya tanamnya minyak kayu putih sama jagung juga," terangnya.

Sojo menjelaskan pada awalnya petani sama sekali tidak menikmati hasil kayu putih yang mereka kelola. Tak ada upah baik untuk biaya tanam maupun memetik daun kayu putih. Lantaran itu, para petani juga menanam tanaman lain seperti jagung, jati, petai, dan tanaman budidaya yang lain. Dari hasil panen jagung, misalnya, jika sukses omzetnya bisa mencapai Rp24 juta sekali panen.

"Profesi mayoritas dulu petani jagung. Setahun bisa dua kali panen. Kalau sekarang harga jual jagung Rp4.000 jadi untuk satu petani yang dapat lahan sehektare itu bisa dapat Rp24 juta sekali panen. Tapi itu bukan untung, untuk modal tanam selanjutnya kalau mau berkelanjutan bisa habis setengahnya sendiri," ucapnya.

Setelah adanya program perhutanan sosial dari pemerintah 2018 silam, petani mulai merasakan manfaat dari menanam kayu putih. Bahkan omzet panen kayu putih pun melebihi hasil dari panen jagung.

"Kalau sekarang setelah adanya program perhutanan sosial dari pemerintah, kita sudah merasakan manfaat dari kayu putih. Ada upah untuk petik, kalau dulu kan belum ada. Lalu ada mesin penyulingan juga dari pemerintah dan bantuan BANK BRI, jadi ada tambahan manfaat dari menyuling kayu putih ini. Kalau untuk hasilnya bisa lebih besar dari jagung, bisa sampai Rp30 juta sekali panen," ujarnya.

Dari hasil panen jagung dan kayu putih, Sojo mengaku bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari, membiayai sekolah anak, bahkan bisa membangun rumah yang sejak lama ia impikan.

"Alhamdulillah, hasil panennya ya lumayan bisa untuk kebutuhan sehari-hari, untuk biaya sekolah anak, untuk ternak juga ada, dan bisa bangun rumah. Kalau dulu sebelum ada program dan mesin penyulingan ini kan masih pas-pasan. Jadi saya sangat bersyukur sekali," pungkasnya.

(akn/ega)