Hardiknas, KPAI Nilai Konsep Merdeka Belajar Masih Jauh dari Harapan

Rahel Narda Chaterine - detikNews
Sabtu, 02 Mei 2020 14:53 WIB
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)
Kantor KPAI (Matius Alfons/detikcom)
Jakarta -

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) diperingati setiap 2 Mei. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim tentang konsep Merdeka Belajar yang masih jauh dari harapan.

"Pembelajaran jarak jauh (PJJ) di era pandemi COVID-19 ternyata makin menunjukkan bahwa Merdeka Belajar dan pembelajaran yang menyenangkan di dunia pendidikan kita masih jauh dari harapan," kata komisioner KPAI bidang Pendidikan Retno Listyarti dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (2/5/2020).

Kesan tersebut, kata Retno, tampak dalam survei yang diadakan KPAI tentang PJJ kepada guru dan siswa. Survei itu dilaksanakan pada 13-21 April 2020 serta diikuti oleh 1.700 siswa dan 602 guru dari jenjang SD hingga SMA/sederajat yang tersebar di 20 provinsi dan 54 kabupaten/kota.

Pesan Menteri Nadiem di Hardiknas: Belajar dari COVID-19!:

Dalam survei itu, Merdeka Belajar tidak terjadi dalam proses pembelajaran selama masa pandemi COVID-19. Hal ini tampak melalui guru yang masih mengejar ketercapaian kurikulum, hanya memfokuskan pada aspek kognitif, hingga penugasan dari guru yang masih memberatkan siswa.

"Yang patut menjadi perhatian serius adalah masih adanya guru sebesar 29,6 persen, yang mengisi aktivitas pembelajaran hanya dengan memberikan tugas. Tentu hal ini bertentangan prinsip pembelajaran yang bermakna atau meaningful learning dan Merdeka Belajar," ujar Retno.

Kemudian, hasil survei juga menyatakan proses pembelajaran jarak jauh masih belum memperhatikan keragaman dan kondisi peserta didik. Sebanyak 58 persen guru masih memberikan tugas melalui aplikasi daring. Sementara itu, masih terdapat siswa yang memiliki keterbatasan sarana, seperti akses gawai, laptop, atau internet.

"Artinya metode pembelajaran malah makin meminggirkan hak-hak anak yang tidak mampu secara sarana. Metode yang dipakai masih terjebak dengan pola 'penyeragaman', tanpa melihat kemampuan ekonomi siswa dan orang tua. Hanya 8,8 persen guru yang memberikan tugas berbeda kepada siswa sesuai dengan akses yang dimiliki siswa baik dari sisi peralatan maupun jaringan atau kelas ekonomi," tutur Retno.

Lebih lanjut, Retno meminta Kemendikbud kembali merefleksikan makna Merdeka Belajar. Menurutnya, hingga saat ini merdeka berpikir dan bernalar masih belum menjadi budaya dalam Pendidikan Indonesia.

"KPAI mendorong Kemendikbud memaknai dan merefleksi kembali 'Mereka Belajar' agar sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang setiap 2 Mei hari kelahirannya kita peringati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Merdeka berpikir dan bernalar belum menjadi budaya di pendidikan kita. Sikap kritis kerap dianggap sok tahu atau malah kurang ajar," kata Retno.