Tausyiah

Mereka yang Dirindukan Surga

Ustaz Fatih Karim - detikNews
Sabtu, 02 Mei 2020 14:59 WIB
One day One Hadits Doa melihat Hilal
Foto: Zaki A/detikcom
Jakarta -

Allah SWT berfirman (yang artinya): Sungguh berbahagia kaum Mukmin (QS al-Mu'minun [23]: 1).

Mengapa kaum Mukmin berbahagia? Tak lain karena merekalah yang dirindukan surga, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): Merekalah para pewaris, yakni orang-orang yang mewarisi Surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya (QS al-Mu'minun [23]: 9-10).

Kaum Mukmin seperti apakah mereka? Dalam surat ini Allah SWT menyebut kriterianya.

Pertama: Orang Mukmin yang senantiasa khusyuk dalam shalatnya. Khusyuk dalam shalat tak sekadar fokus atau konsentrasi. Tak hanya memusatkan seluruh pikiran dan perasaan hanya kepada Allah SWT. Lebih dari itu, khusyuk sejatinya dekat dengan kata "khasy-yah". Rasa takut kepada Allah SWT. Takut terhadap azab-Nya. Sebab banyak kewajiban yang ditinggalkan. Juga karena banyak dosa yang dilakukan. Rasa takut kepada Allah SWT inilah yang juga ia bawa di luar shalat. Dengan itu shalatnya benar-benar mencegah dirinya dari dosa. Dari perbuatan keji dan mungkar (QS al-Ankabut [29]: 45).

Kedua: Orang yang selalu berpaling dari segala ucapan (juga segala perbuatan) yang sia-sia. Yang tak berguna. Apalagi ucapan dan tindakan yang mengandung unsur dosa. Misalnya meng-ghibah, menebar fitnah, menyebar hoax, mengadu-domba, bersumpah palsu, dsb. Ia akan selalu berpegang pada sabda Baginda Nabi saw., "Siapa saja yang mengimani Allah dan Hari Akhir, katakanlah yang benar atau diam." (HR al-Bukhari).

Ketiga: Orang yang senantiasa menunaikan zakat. Baik zakat mal maupun zakat fitrah yang merupakan sedekah wajib. Bahkan ia banyak mengeluarkan sedekah sunnah.

Keempat: Orang yang selalu menjaga kemaluan (kehormatan)-nya. Jangankan berzina. Mendekati zina pun berusaha dia tinggalkan. Ia hanya akan melampiaskan hasrat seksualnya kepada suaminya/istrinya yang sah.

Kelima: Orang yang senantiasa menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya dan selalu menepati janji. Amanah dan janji biasanya melekat pada seorang pemimpin. Namun, harus disadari, kata Baginda Nabi saw., "Setiap orang dari kalian adalah pemimpin. Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban." (HR Muslim).

Dengan demikian setiap Muslim adalah pengemban amanah. Setiap Muslim adalah pengemban janji. Sebab syahadat (kesaksian) yang dia ucapkan hakikatnya adalah amanah dan janji kepada Allah dan Rasul-Nya. Demikian pula seluruh ucapannya dalam shalat-shalatnya. Di antaranya amanah dan janji untuk hanya menghambakan diri kepada Allah SWT. Untuk selalu bepegang teguh dengan syariah-Nya.

Karena itu seorang Muslim yang amanah dan menepati janji akan tampak pada sosok: pemimpin negara yang adil dan mengayomi; ayah yang bertanggung jawab menafkahi keluarga, lahir-batin; suami yang menyayangi istri; istri yang setia melayani suami; ibu yang sabar mengurus rumah tangga; anak-anak yang selalu berbakti kepada kedua orangtua; majikan yang memperlakukan bawahannya secara manusiawi; karyawan yang jujur dan berdedikasi; guru yang ikhlas mendidik sepenuh hati; murid yang taat kepada guru; dst.

Keenam: Orang yang senantiasa menjaga (waktu-waktu) shalatnya. Tak berleha-leha saat azan waktu shalat fardhu tiba. Segera menunaikan shalat saat azan telah berkumandang di masjid atau mushala.

Itulah orang-orang yang dirindukan surga. Semoga kita termasuk di dalamnya. Amin.

Ustaz Fatih Karim

Founder Cinta Quran Foundation, Co-Founder QuranBest, IG : @fatihkarim

(erd/erd)