Kolom Hikmah

Puasa, Peluang Sukses Sempurna 

Abdurachman - detikNews
Sabtu, 02 Mei 2020 07:46 WIB
Prof Abdurrachman, Guru Besar Unair
Prof. Abdurachman (Foto: Dokumen pribadi)
Jakarta -

Ketika sedang berjalan bersama putranya yang diberi nama Muhammad, al-Hasan cucu Nabi SAW dicela habis-habisan oleh seseorang. Apakah beliau membalas? Beliau hanya diam saja. Begitu selesai dan puas, si pencela pergi.

Lalu Muhammad putra Hasan berkata kepada ayahnya, "Wahai Ayah, mengapa Ayah tidak membalas?", Ayahnya menjawab, "Anakku, Ayah tidak tahu bagaimana caranya membalas!" Tampaknya al-Hasan memang tidak memiliki khasanah kata-kata buruk yang harus dilontarkan, sehingga beliau bingung memperoleh data di dalam perbendaharaan kosa-kata yang dimilikinya.

Belum mudah untuk sampai kepada tingkat kesempurnaan iman sebagaimana al-Hasan bin Abi Thalib. Tetapi puasa yang sesuai dengan aturan yang disampaikan Nabi SAW adalah puasa yang seharusnya sampai kepada kemampuan menahan diri seperti itu. Sabda Rasululllah SAW. "Bukanlah puasa itu semata menahan makan dan minum, tapi puasa juga harus menahan diri dari perbuatan sia-sia dan berkata kotor."

Profesor John Bargh, Guru Besar Psikologi Sosial dari Universitas Yale, memperkenalkan risetnya (self-talk) yang kemudian menghasilkan Barch Hallway Theory. Riset Bargh menguji efek kekuatan kata-kata terhadap tubuh. Barch mengumpulkan empat puluh mahasiswa yang bersedia melakukan hal yang diperintahkannya untuk mengulang dan berkata-kata pada diri sendiri selama 30 hari. Seluruh mahasiswa dibagi menjadi 2 kelompok A dan B.

Kelompok A yang selalu berkata positif misalnya, hidup ini indah, hidup ini enak, cuaca menyenangkan, rizki lancar, selalu sehat, Tuhan baik, pemerintah benar, kerja gampang, sehat, lucu, asyik, apapun kata-katanya yang berkonotasi fun, positif, diucapkan berulang-ulang dalam hati selama 30 hari.

Kelompok B sebaliknya selalu berkata negatif misalnya; Tuhan jahat, memang nasib susah, kerjaan sulit, jaman gila, pemerintah korup, bangsa bejat, sialan, brengsek, cari kerja susah, jalan macet, sampah di mana-mana, pemimpin tolol, malas, semua hal yang memberi kesan marah, bete, galau. Di hari ke-30 kedua kelompok dievaluasi terhadap seluruh ekspresi wajah dan tampilan geraknya melalui sejumlah besar kamera tersembunyi. Evaluasi dilakukan oleh 100 orang pakar dari berbagai disiplin ilmu.

Studi menghasilkan tingkat kepercayaan sampai 100 persen. Diperoleh hasil bahwa kelompok A memiliki pancaran gloomy atau kilauan wajah berbinar, misalnya dari salah seorang peserta walau dia hanya mengenakan jeans dan kaos oblong. Tampak kulit mereka terang, ceria, auranya menyenangkan, dan responden menjadi ingin dekat dengan orang-orang tersebut. Sedang kelompok B tampak kekumuhan dan kesuraman pancaran wajah walau pada saat datang menggunakan jas tiga lapis yang perlente.

Karya Bargh "Bargh Hallway Theory" ditulis oleh Malcolm Gladwell dalam buku "Blink: The Power of Thinking Without Thinking" (2012) sehingga menjadi terkenal ke seluruh dunia.

Jauh hari sebelum Bargh melakukan risetnya, Masaru Emoto (2001) periset internasional dari Jepang menunjukkan sejumlah besar bukti pengaruh kata-kata baik dan kata-kata buruk pada air. Emoto, melalui salah satu buku best seller international-nya, "The Hidden Massages in Water" menampilkan sekian banyak bukti ilmiah.

Emoto membuktikan daya ubah kata-kata baik terhadap molekul air, juga terhadap benda padat (nasi). Tidak hanya melalui kata-kata yang disampaikan melalui tulisan, tetapi Emoto juga membuktikan kata-kata yang langsung disampaikan melalui lisan. Dua metode tersebut, kata-kata lisan dan tulisan memiliki daya ubah yang sejalan. Kata-kata baik menimbulkan perubahan baik, sedangkan kata-kata buruk menimbulkan perubahan buruk.

Kata-kata yang disampaikan melalui lisan diwakilkan kepada organ lidah sedangkan kata-kata yang disampaikan melalui tulisan diwakilkan oleh jari-jemari. Puasa atau shiyam ramadhan ini menjadi pemantik bagi siapa pun yang menjalankannya untuk melaju pesat meninggalkan kata-kata buruk menuju kata-kata baik, baik yang disampaikan melalui lisan maupun tulisan.

Kata-kata buruk memiliki potensi merusak diri, merusak lingkungan bahkan merusak dunia oleh karenanya mengancam merusak makna puasa. Kata-kata baik yang benar, tepat sesuai al-Quran dijamin mengubah perilaku menjadi perilaku positif dan karenanya dijaminkan ampunan Tuhan.

"Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan berkatalah (selalu) dengan perkataan yang tepat, niscaya akan menjadi shalih (baik) seluruh perbuatanmu dan diampunkan seluruh dosa-dosamu" (QS. Al-Ahzab 33:70).

Sungguh sangat menakjubkan jika potensi baik seluruh tubuh "hanya" diwakilkan kepada kata-kata yang disampaikan. Di sisi lain boleh jadi kata-kata yang diproduksi oleh lisan atau tulisan bisa menunjukkan seberapa bagus hasil puasa yang telah dijalankan. Betapa pun, sampainya para pelaku puasa kepada selalu memproduksi kata-kata baik yang tepat memberi kesempatan sukses sebagaimana sukses sempurna bagi orang yang benar-benar bertaqwa.

Puasa demikian diperoleh oleh orang yang melaksanakannya atas dasar iman kepada Allah, dan selalu memperhatikan aturan dalam berpuasa. Selain menahan makan dan minum, serta berhubungan suami istri sejak terbit fajar sampai terbenam matahari, ia juga menahan diri dari yang membatalkan puasa. Salah satu penyebab batalnya puasa adalah kata-kata yang tidak diperkenankan.

Kata-kata yang tidak diperkenankan termasuk ke dalam kelompok kata-kata buruk. Bila merujuk kepada tujuan berpuasa untuk menjadikan seorang hamba ke dalam golongan hamba yang baik (taqwa), maka kata-kata buruk mengarahkan hamba kepada hamba yang buruk. Ini pasti bertentangan dengan tujuan puasa, maka kata-kata buruk dapat mengancam batalnya puasa.

Kewajiban berpuasa di bulan ramadhan adalah kewajiban untuk menjadi taqwa, menjadi hamba Allah yang baik. Dengan kebaikan itu terbuka fasilitas sukses yang sempurna. Kesuksesan yang ditandai dengan; mampu menerima pengajaran langsung dari Tuhan, mampu membedakan mana yang haq (benar secara hakikat) dan mana yang bathil, selalu memperoleh solusi terbaik dari setiap problem, selalu mendapat kemudahan dalam setiap urusan, dan memperoleh rizki dari arah yang tidak diduga. Inilah sukses sempurna yang semua kita hendaknya berpacu untuk menggapainya!

Abdurachman

Guru Besar FK Universitas Airlangga Surabaya, Takmir Masjid FK Unair

*Artikel ini merupakan kiriman pembaca. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab pembaca.

(erd/erd)