Round-Up

Poin-poin Kesaksian Novel Baswedan dalam Sidang Penyiraman Air Keras

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Jumat, 01 Mei 2020 06:22 WIB
Novel Baswedan
Foto Novel Baswedan: Ari Saputra
Jakarta -
Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan, hadir sebagai saksi kasus penyiraman air keras dengan terdakwa adalah Ronny Bugis dan Rahmat Kadir. Ini sejumlah kesaksian Novel.

Novel hadir langsung menyampaikan kesaksiannya dalam sidang penyiraman air keras terhadap dirinya di PN Jakarta Utara, Kamis (30/4/2020).
Dalam perkara ini, dua terdakwa Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis didakwa telah melakukan penganiayaan berat terhadap Novel dengan cara menyiramkan air keras. Mereka didakwa melanggar Pasal 351 atau Pasal 353 atau Pasal 355 ayat (1) KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Cairan air keras itu didapat Rahmat dari pul angkutan mobil Gegana Polri. Menurut jaksa, Rahmat mengambil cairan tersebut setelah melaksanakan apel pagi di Satuan Gegana Korps Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

"Terdakwa Rahmat Kadir Mahulette pergi ke pool (red: pul) angkutan mobil Gegana Polri mencari cairan asam sulfat (H2SO4), dan saat itu terdakwa mendapatkan cairan asam sulfat (H2SO4) yang tersimpan dalam botol plastik dengan tutup botol berwarna merah berada di bawah salah satu mobil yang terparkir di tempat tersebut," ujar jaksa saat membacakan surat dakwaan dalam persidangan di PN Jakut, Kamis (19/3).

Dalam persidangan ini, yang duduk sebagai terdakwa adalah Ronny Bugis dan Rahmat Kadir. Ronny dan Rahmat didakwa melakukan penyiraman air keras kepada Novel Baswedan sebagai bentuk penganiayaan berat.

Keduanya didakwa melanggar Pasal 351 atau Pasal 353 atau Pasal 355 ayat ayat (1) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Novel memberikan kesaksian mulai dari kejadian sebelum aksi teror, kejadian setelah dirinya menjadi korban penyiraman air keras, mengungkap alasannya mengubah berita acara pemeriksaan (BAP) hingga menyinggung kasus korupsi besar yang ditanganinya saat aksi teror.

Berikut poin-poin kesaksian Novel Basewdan dalam sidang kasus penyiraman air keras:


Komjen Irawan Bicarakan 'Jenderal' Usai Aksi Teror

Novel menceritakan kejadian-kejadian setelah teror penyiraman air keras kepadanya berlangsung. Novel mengatakan, setelah kejadian teror, dirinya bertemu dengan Komjen M Irawan yang saat itu menjabat Kapolda Metro Jaya.
Hal itu disampaikan Novel dalam sidang penyiraman air keras terhadap dirinya di PN Jakarta Utara, Kamis (30/4/2020). Novel menjadi saksi dalam perkara ini.

"Pada saat setelah saya diserang, saya hubungi Pak Kapolri Pak Tito Karnavian, dan kemudian beliau menyampaikan akan perintahkan staf jajarannya untuk merespons, tak lama saya dihubungi oleh Pak Kapolda Metro, pada saat datang pertama kali Pak Kapolda Metro Pak M Iriawan rasanya juga ada Ketua KPK Pak Agus Rahardjo," ujar Novel saat bersaksi.

Novel mengatakan saat itu Komjen Iriawan datang menemuinya di rumah sakit tempat dia dirawat. Saat Iriawan menjenguk, Novel mengatakan Iriawan kala itu selalu menyebut nama jenderal yang cukup dikenal di kalangan polisi.

"Yang disampaikan Pak Kapolda saat itu apa?" tanya hakim.

"Beliau menyesalkan dengan apa yang terjadi, seperti merasa kecolongan, dan beliau menyebut beberapa kali nama orang yang kemudian beliau sebut 'ini jenderal ini' kurang-lebih gitu," kata Novel sambil meniru ucapan Iriawan.

Saat itu, kata Novel, Iriawan berjanji akan segera menelusuri pelaku teror ke Novel. "Pak Kapolda katakan akan segera lakukan penelusuran," katanya.

Orang Tak Dikenal Pantau Rumah Novel

Novel mengaku sebelum teror siram air keras terhadap dirinya berlangsung, rumahnya sempat dipantau orang tidak dikenal (OTK). Menurut Novel, dia dipantau sejak dua minggu sebelum teror air keras berlangsung.
"Yang mulia, sekitar 2 minggu sebelum saya diserang ada pengamatan di depan rumah saya. Jadi, di depan rumah saya ada sungai posisi pengamatan ini ada di seberang rumah saya. Dan juga ada beberapa kendaraan dan mobil yang mencurigakan, itu (foto) mobilnya sudah saya berikan ke Kapolda Metro, karena itu saya dapat dari tetangga saya," ujar Novel saat bersaksi di sidang penyerang air keras dirinya di PN Jakarta Utara, Kamis (30/4/2020).

Saat itu, kata Novel, Kapolda Metro Jaya Komjen M Iriawan yang menjabat kala itu merespons biasa saja. Bahkan, kata Novel, Kapolda saat itu terkesan seperti orang ketakutan.

"Apa tanggapan Polda pas dikasih tahu?" Tanya hakim.

"Katanya 'oh iya kalau gitu kita perlu waspada dan hati-hati'. Saya ketika melihat itu, rasanya ada kekuatan yang cukup besar yang Pak Kapolda pun rasanya agak sedikit takut," jawab Novel.

Novel menyebut bukti foto-foto orang melakukan pengamatan di depan rumahnya itu juga sudah diserahkan oleh Polda Metro Jaya. Menurut Novel, wajah orang yang sedang memantau pergerakan Novel di foto itu jelas kelihatan.

Selain itu, di persidangan Novel juga mengaku sebelum adanya teror air keras ini dia kerap mendapatkan teror-teror. Teror itu diberikan saat dia sedang menangani kasus korupsi.

"Emang gini yang mulia, ketika saya gunakan sepeda motor ke kantor, saya pernah ditabrak di waktu berbeda. Dan ancaman-ancaman dalam perkara itu banyak sekali saya terima yang mulia. Jadi ketika alami hal itu saya hati-hati, iya tentunya berbeda ketika saya mengalami hal ini," tutur Novel.

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4