52 Gajah di Riau Kelaparan
Kamis, 15 Des 2005 16:08 WIB
Pekanbaru - Di negeri ini, tidak cuma manusia yang kekurangan gizi. Binatang sekelas gajah pun bisa mengalami yang sama. Sebanyak 52 ekor gajah liar di lokasi Pusat Pelatihan Gajah (PLG) di kawasan Taman Hutan Rakyat di Minas, Kabupaten Bengkalis, Riau mengalami kelaparan akibat kekurangan pasokan makanan. Kelaparan para gajah itu disampaikan aktivis WWF Riau, Nurchalis Fadli kepada wartawan, di ruang kerjanya Jl Durian Pekanbaru, Kamis (15/12/2005). Menurut Fadli, di PLG Minas itu, tubuh gajah yang semestinya bongsor tampak kurus. Gajah-gajah liar itu bahkan sampai kelihatan tulang punggungnya. Seharusnya pasokan makanan untuk gajah sebesar 10 persen dari berat badannya. Namun sejak empat bulan terakhir ini pasokan tidak mencukupi. "Kondisi gajah-gajah liar itu kian memburuk dalam empat bulan terakhir. Kita menduga hal itu terjadi karena kurangnya pasokan makan yang menyebabkan kekurangan gizi," kata Fadli. Data WWF menyebutkan setidaknya di PLG Minas terdapat 52 ekor gajah mengalami gizi buruk. Dari jumlah itu, sekitar 6 ekor gajah lainnya tergolong masih anak-anak. Seluruh anak gajah itu kondisinya kian memburuk karena pasokan makanan bantu berupa susu yang minim. "Anak -anak gajah usia rata-rata delapan sampai satu tahun itu kurang mendapat pakan tambahan berupa susu. Itu sebabnya anak-anak gajah kondisi kesehatannya kian memburuk," kata Fadli. Selama di pusat pelatihan, gajah-gajah liar itu mendapat pasokan makan berupa batang pisang. Namun di satu sisi, daya dukung lingkungan tidak mencukupi. PLG di Minas boleh dibilang merupakan kawasan minim rerumputan. Padahal rerumputan menjadi makanan pokok gajah liar. "Sedangkan pasokan makanan pohon pisang itu sendiri merupakan bentuk makanan tambahan," kata Fadli. Selain gajah kekurangan makanan, WWF juga mensinyalir PLG Minas juga kekurangan persedian obat-obatan. Hal itu terindikasi dari beberapa ekor gajah yang mengalami luka-luka di bagian tubuhnya yang tak kunjung sembuh. Fadli mencontohkan, seekor anak gajah menderita luka pada bagian pergelangan kaki belakangnya karena diikat tali nilon. Ada juga seekor gajah terluka bekas tembakan. Luka yang belum sembuh itu kini menimbulkan infeksi. "Kami menduga pengelola di PLG Minas tidak hanya kekurangan bahan pangan, tapi juga kekurangan obat-obatan," kata Fadli. Mendapat kabar gajah di PLG Minas kekurangan pasokan pangan dan obat-obat, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau, Danny Willystra menepis tudingan WWF Riau tersebut. "Saya rasa selama ini segala pasokan makanan atau pun obat-obatan tersedia di PLG Minas," kata Danny saat dikonfirmasi detikcom.
(iy/)











































