Cara Berhaji Sumarsi: Bawa Beras 5 Kg & Selalu Ikhlas

Catatan Haji

Cara Berhaji Sumarsi: Bawa Beras 5 Kg & Selalu Ikhlas

- detikNews
Kamis, 15 Des 2005 15:21 WIB
Madinah - Perawakannya kecil. Rambut telah dipenuhi uban. Usianya sudah 71 tahun. Tapi, dia tidak seperti pria tua lainnya, yang sudah pikun. Ingatannya masih cespleng. Dia juga terkesan ramah, murah senyum dan berani. Dia tipe orang yang suka nrimo, ikhlas.Dia adalah Sumarsi, jamaah haji asal Blitar, Jawa Timur. Tiba di Kota Madinah pada Jumat (9/12/2005) lalu, tergabung dalam kloter 04 Surabaya. Pengetahuannya cukup luas. Maklum, dia adalah pensiunan guru di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Depdiknas-Red) 11 tahun lalu. Selepas pensiun, Sumarsi memilih ke habitat di masa kecilnya, bertani. Reporter detikcom Arifin Asydhad bertemu Sumarsi saat sama-sama salat subuh di Masjid Nabawi, Kamis (15/12/2005). Setelah berkenalan nama dan alamat, Sumarsi bertanya tentang pekerjaan reporter situs Anda ini. Reporter Anda menjawab: wartawan di detikcom. "Oh...," kata Sumarsi mengangguk-angguk. "Memang apa itu detikcom?" tanya Arifin. "Itu seperti internet, kan?" jawab dia. Luar biasa! Pria yang sudah senior dan tinggal di pelosok desa Blitar mengenal nama detikcom. Dia mengaku hanya pernah mendengar, meski tidak pernah membuka. "Saya cuma tahu-tahu aja," kata Sumarsi dengan bahasa Indonesia yang sangat lancar. Sumarsi berangkat haji untuk pertama kalinya bersama istrinya. Di Madinah, dia mendapatkan penginapan yang cukup jauh dari Masjid Nabawi. "Saya jalan ke sini ya sekitar 1 km," kata Sumarsi. Namun, dia tidak hafal nama pemondokannya. "Namanya agak rumit, saya tidak hafal. Tapi, kalau arah jalannya saya tahu," ungkapnya. Meski mendapat pemondokan yang cukup jauh, dia tidak mengeluh. Dia juga tidak iri dengan jamaah haji lain yang mendapat hotel berbintang di pinggiran halaman Masjid Nabawi. Dia menerima saja meski penginapannya bukan seperti hotel dan satu kamar diisi 8 orang. "Penginapan saya dekat pasar. Tapi, ya nggak apa-apa. Prinsip saya sejak pergi dari rumah, bahwa saya harus ikhlas untuk berhaji. Karena itu, bila saya ditakdirkan mendapat penginapan yang jauh atau jelek, ya saya terima saja. Ini sudah digariskan sama Yang di Atas," kata pria beranak tiga ini. Untuk makan sehari-hari, Sumarsi sudah membawa bekal. Di Madinah, jamaah haji hanya mendapat jatah makan dua kali dalam satu hari, siang dan malam. Karena itu, untuk makan pagi, Sumarsi dan teman-temannya memasak sendiri. Paling-paling hanya menanak nasi. Kebetulan, penginapan yang ditempatinya memang ada ruang khusus untuk dapur. Beras tidak usah beli. Sebab, dirinya sudah membawa beras dari Tanah Air. "Sebelum berangkat ke Arab Saudi, kami diwajibkan membawa beras sendiri-sendiri. Saya sendiri membawa 5 kg. Teman-teman malah ada yang bawa 10 kg," kata Sumarsi. Tentang lauk pauk, Sumarsi mengaku tidak perlu beli di pasar di Madinah. "Di rombongan kami, banyak yang membawa lauk pauk yang tahan lama. Ada yang bawakering tempe, ada yang membawa kerupuk, sambal kacang, dan lain-lain," ungkap dia. Dengan cara ini, kata dia, dirinya tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk hidup 8 hari di Madinah. Sumarsi mengaku memiliki 3 anak yang sudah menikah semua. Anaknya ada yang bekerja di bank, ada juga yang menjadi dosen di sebuah universitas swasta di Malang. "Saya berangkat haji ini juga sebagian dari urunan anak-anak. Kalau saya cuma bertani dan mengandalkan uang pensiun, ya sangat sulit untuk bisa berangkat haji seperti sekarang," ceritanya. Menyapa Orang Turki Sumarsi termasuk pemberani. Dia berani menyapa jamaah Turki yang duduk di sampingnya. "Assalamualaikum, Indonesia," kata Sumarsi seraya mengajak jabat tangan kepada pria Turki berbadan tinggi besar dan juga sudah beruban itu. Orang Turki menyambut jabat tangannya dan berkata, "Turki". Orang Turki itu sangat senang diajak berkenalan. Begitu jabat tangan, orang Turki itu pun mengajak bicara Sumarsi. Namun, pria Turki itu mengajak berbicara dengan bahasa Turki. Jelas, Sumarsi tidak paham. Sumarsi dengan ringannya menjawab pertanyaan orang itu. Cukup menggelikan. Sebab, Sumarsi menjawab pertanyaan orang Turki itu dengan bahasa Jawa. "Ya wis ngomongo, aku ora ngerti basamu, kowe yo ora ngertibasaku (Ya sudah bicaralah, saya tidak paham bahasamu, kamu juga tidak paham bahasaku)," kata Sumarsi sambil terkekeh. Orang Turki juga tertawa, tapi sepertinya penasaran. Dia ulangi pertanyaannya itu kepada Sumarsi. Kali ini Sumarsi melambaikan tangan sebagai tanda tidak paham. Lantas orang Turki kembali bertanya dengan sedikit kata bahasa Arab, "Ism, ism." "Apa maksudnya," tanya Sumarsi kepada detikcom. Setelah dikasih tahu bahwa orang Turki itu menanyakan nama, Sumarsi pun menjawab kepada orang Turki. "Marse (lafalnya bukan Marsi-Red)," kata Sumarsi. "Aziz," jawab orang Turki itu sambil mengajak lagi jabat tangan kepada Sumarsi. Kedua orang beda negara yang sama-sama sudah gaek itu pun tertawa renyah bersama. (nrl/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads