Mengungkap Riset yang Diacu Jokowi soal Paparan Matahari Bisa Kalahkan Corona

Danu Damarjati - detikNews
Sabtu, 25 Apr 2020 12:03 WIB
Presiden Jokowi bertemu Presiden AS Donald Trump di sela KTT G20 tahun 2017.
Foto ilustrasi: Presiden Jokowi dan Presiden Donald Trump (Biro Pers Sekretariat Presiden)

Kesimpulan:

Virus Corona dalam droplet (liur atau lendir manusia) hidup lebih lama pada kondisi dalam ruangan yang kering (kelembapan rendah).

Virus Corona lebih cepat mati bila terpapar cahaya matahari yang mengandung sinar ultraviolet di luar ruangan.

Virus Corona lebih cepat mati bila berada dalam temperatur yang lebih tinggi, kelembapan yang lebih tinggi, dan terpapar cahaya matahari. Ini berlaku baik untuk virus Corona dalam droplet di permukaan maupun yang berada di udara (aerosol).

Berjemur dan olahraga jadi salah satu cara untuk lawan virus Corona. Tak sedikit warga di Petamburan berjemur di bantaran rel kereta untuk tingkatkan imun tubuhTak sedikit warga di Petamburan berjemur di bantaran rel kereta untuk tingkatkan imun tubuh. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Saran:

Cara paling baik bagi masyarakat AS untuk menurunkan risiko penularan virus Corona, ada tiga, yakni:
1. Panas dan kelembapan untuk dalam dan luar ruangan
Tingkatkan suhu dan kelembapan dalam ruangan yang berpotensi terkontaminasi. Perhatian ekstra perlu diterapkan untuk lingkungan yang kering dan tanpa paparan sinar matahari.
2. Beraktivitas di luar ruangan
Cahaya matahari menghambat penularan virus.
3. Disinfektan membunuh virus
Disinfektan yang biasa tersedia adalah cairan pemutih (membunuh virus 5 menit) dan Isopropil alkohol (membunuh virus 30 detik).

"Ini (panas, kelembapan, sinar matahari) hanyalah alat lain dalam sabuk peralatan kita. Ini adalah senjata lain yang bisa kita gunakan dalam pertarungan. Di musim panas, kita tahu bahwa kondisi seperti musim panas akan menciptakan lingkungan yang bisa mengurangi penularan," kata Bryan.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4