Mengungkap Riset yang Diacu Jokowi soal Paparan Matahari Bisa Kalahkan Corona

Danu Damarjati - detikNews
Sabtu, 25 Apr 2020 12:03 WIB
Presiden Jokowi bertemu Presiden AS Donald Trump di sela KTT G20 tahun 2017.
Foto ilustrasi: Presiden Jokowi dan Presiden Donald Trump (Biro Pers Sekretariat Presiden)

Eksperimen:

Tes di permukaan

Mereka bereksperimen terhadap virus yang berada di permukaan benda-benda. Benda yang mereka gunakan bukan benda berpori, melainkan benda yang tanpa pori seperti gagang pintu dan besi stainless. Kemudian, partikel virus di benda-benda itu diberi paparan suhu udara, kelembapan, dan sinar matahari.

Tes aerosol

Eksperimen dilakukan di Laboratorium Fisika Terapan Universitas Johns Hopkins. Mereka mencoba mensimulasikan kondisi virus Corona yang bertahan di udara (aerosol). Satu partikel virus dibikin mengambang di udara dalam percobaan ini.

Satu partikel virus itu ditahan di udara dalam tabung percobaan seukuran ember 5 galon. Kemudian partikel virus itu diberi berbagai tingaktan suhu udara, berbagai tingkatan kelembapan udara, diberi paparan cahaya matahari, dan disimulasikan dalam kondisi lingkungan yang berbeda-beda.

Hasil:

Berdasarkan riset ini, Bill Bryan mengatakan virus Corona bisa kalah oleh tiga hal, yakni kenaikan temperatur, kelembapan udara, dan paparan sinar mentari.

"Pengamatan kami yang paling luar biasa hingga saat ini adalah pengaruh yang kuat dari sinar matahari yang bisa membunuh virus - baik di permukaan maupun di udara," kata Bryan.

Mereka juga mengamati kombinasi antara kenaikan suhu plus kelembapan sekaligus dapat memperlemah SARS-CoV-2. Kondisi panas dan lembab tidak kondusif bagi kehidupan makhluk kecil berbahaya itu, sehingga virus itu bisa mati lebih cepat.

Pengaruh sinar ultraviolet (UV) juga mempercepat binasanya virus Corona. Pada suhu 70 derajat Fahrenheit (21 derajat Celcius) hingga 35 derajat Fahrenheit (1,6 derajat Celcius) dengan tingkat kelembapan 80%, kemudian ditambah sinar UV, maka waktu paruh virus Corona yang semula 6 jam menjadi 2 menit saja. Sinar UV ampuh membunuh virus itu.

Apa pula itu waktu paruh? Waktu paruh (half-life) terkait umur virus Corona dalam liur atau dahak manusia yang mendarat di permukaan benda-benda. Partikel virus Corona dalam permukaan benda-benda tidak hanya berjumlah satu saja, melainkan bisa banyak sekali. Waktu paruh adalah usia hidup sejumlah partikel virus dalam jumlah setengahnya.

Gagang pintu yang dipegang, bisa saja mengandung percikan lendir bermuatan Corona. (Getty Images/webphotographeer)

Misalnya, 18 jam waktu paruh berarti adalah umur virus yang telah dibagi dua. Ambilah contoh, ada 1.000 partikel virus di gagang pintu, maka dalam 18 jam virus itu akan menyusut setengahnya yakni 500 partikel virus. 18 jam kemudian, 500 partikel virus itu menyusut lagi menjadi 250 partikel, dan seterusnya sampai habis.

Kenapa mengukur umur virusnya menggunakan 'waktu paruh'? Alasan Bryan, jumlah cairan yang dikeluarkan manusia saat meludah atau bersin bervariasi dan tidak bisa ditentukan serta merta.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4