Kemunculan Orca di Perairan Anambas Diduga Pengaruh Iklim Global

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Jumat, 24 Apr 2020 19:05 WIB
paus pembunuh
Foto: Kementerian Kelautan dan Perikanan
Jakarta -

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menerima laporan munculnya kawanan orca di sekitar Taman Wisata Perairan (TWP) Anambas. Ini merupakan fenomena langka yang terjadi di Kawasan Konservasi Perairan dengan luas 1,2 juta hektare tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Aryo Hanggono menjelaskan kemunculan orca di sekitar TWP Anambas mengindikasikan wilayah perairan Anambas memiliki keanekaragaman hayati laut yang tinggi.

"Dengan kondisi keanekaragaman hayati yang tinggi, sangat tepat bila wilayah ini perlu dilindungi dan dijadikan kawasan konservasi dengan fokus pengembangan konservasi berbasis ekowisata di belahan barat NKRI, ini menjadi peluang bagi pemerintah RI," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (24/4/2020).

"Oleh karenanya, bertolak dari pertimbangan tersebut, saya mendorong Provinsi Kepulauan Riau mengalokasikan sebagian ruangnya untuk konservasi dan mewujudkan ke dalam Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP3K)," imbuhnya.

Lebih lanjut, Aryo menjelaskan sesuai Kepmen KP No.37/KEPMEN-KP/2014 TWP Anambas merupakan wilayah perairan yang dikelola KKP. Kemunculan orca di perairan Anambas perlu mendapat perhatian dan didukung dengan penelitian lebih lanjut karena merupakan fenomena yang langka dan dapat memperkaya data konservasi perairan Indonesia.

"Munculnya orca di perairan Anambas bisa menjadi indikasi bahwa wilayah perairan tersebut subur, banyak sumber makanan yang pada gilirannya dapat meningkatkan sumberdaya perikanan sebagai sumber pangan. Sesuai dengan target SDGs 14 artinya Indonesia memiliki aset pangan yang baik," ungkap Aryo.

Penguatan kemitraan K/L, Pemda, peneliti dan NGO serta masyarakat khususnya di sekitar Kawasan Konservasi Nasional Anambas menurut Aryo menjadi tantangan tersendiri untuk menjadikan suatu kawasan konservasi sebagai resources keanekaragaman hayati untuk pemenuhan pangan serta obat-obatan ke depan.

Hal ini juga didukung pemerintah melalui Perpres No 56 tahun 2019 tentang Rencana Aksi Nasional Pengelolaan Terpadu Taman Nasional dan Kawasan Perairan Nasional Tahun 2018-2025.

Sementara itu, Kepala LKKPN Pekanbaru Fajar Kurniawan menyampaikan ke depan, pihaknya akan membuat data spasial seluruh informasi dan laporan masyarakat yang telah terverifikasi, dan memberikan sertifikat penghargaan terhadap Nelayan Desa Tarempa Timur Aldi Pratama atas perannya dalam memberikan data dan informasi yang berhubungan dengan kelautan dan perikanan.

"Kami akan segera spasialkan data dan informasi laporan masyarakat terkait konservasi yang telah terverifikasi. Khusus atas informasi yang disampaikan oleh Saudara Aldi, kami sangat apresiasi atas kontribusinya memperkaya informasi konservasi di TWP Anambas dan akan menyampaikan penghargaan dalam waktu dekat," jelasnya.

Diketahui, orca atau disebut juga paus pembunuh merupakan jenis mamalia laut yang masih berkerabat dengan lumba-lumba dalam keluarga Delphinidae. Hewan berwarna hitam-putih ini tumbuh hingga mencapai 9,8 meter dengan berat 11 ton. Saat ini orca masih masuk dalam kategori Data Deficient (DD; Informasi Kurang) dalam daftar merah International Union of Conservation Nature (IUCN).

Orca banyak ditemukan pada perairan yang lebih dingin. Namun, kemunculan orca di Indonesia sempat tercatat di beberapa lokasi lainnya, seperti di Bone Bolango, Gorontalo, pada 2019; Maratua, Kalimantan Timur, pada 2018; Selat Makassar pada 2014; serta terlihat setiap tahun di Bali, Maluku, Papua (Kabupaten Raja Ampat), dan Nusa Tenggara (Laut Sawu).

Kemunculan Orca Akibat Pengaruh Iklim Global

Salah satu peneliti di Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) KKP menduga pengaruh iklim global menyebabkan orca mengalami disorientasi. Selain itu, perairan Indonesia diketahui memiliki kelimpahan sumber daya ikan sehingga membuat orca bermigrasi untuk mencari makan ke perairan tropis. Kejadian perilaku orca mencari makan di perairan Indonesia juga tercatat pada penelitian yang berlokasi di Laut Sawu pada Juli dan Desember 2019.

Dari sudut pandang oseanografi, Widodo Pranowo, peneliti bidang oseanografi BRSDM KKP, menjelaskan ikan yang menjadi mangsa orca memerlukan daya dukung hidup, seperti plankton yang melimpah. Namun konsentrasi klorofil sesaat Laut Kepulauan Anambas pada 1-6 April 2020 diprediksi hanya sekitar 0,2 hingga 0,4 miligram per meter kubik. Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi klorofil secara realitas di perairan Laut Anambas hanya menyediakan 20 persen dari teori yang ada.

(mul/mul)