6 Terdakwa Kasus Makar Surya Anta cs Hadapi Putusan Siang Ini

Yulida Medistiara - detikNews
Jumat, 24 Apr 2020 12:19 WIB
Gedung Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
Gedung PN Jakpus (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Enam terdakwa kasus makar, yakin Paulus Suryanta Ginting, Charles Kossay, Ambrosius Mulait, Isay Wenda, Anes Tabuni, dan Arina Elopere, akan menghadapi sidang putusan siang ini. Keenam terdakwa disebut menuntut kemerdekaan Papua saat demo di depan Istana Negara dan Mabes TNI AD.

Sidang pembacaan putusan itu akan dilakukan pada pukul 13.00 WIB di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Selain itu, putusan tersebut akan disiarkan secara live di akun YouTube KontraS dan FRI WP Media serta akun IG @lbh_jakarta.

Kuasa hukum para terdakwa, Oky Wiratama Siagian, berharap majelis hakim akan membebaskan para terdakwa. Menurutnya, para terdakwa tidak melakukan perbuatan makar seperti yang didakwakan, melainkan hanya menyampaikan pendapat sebagai respons terkait peristiwa di Surabaya.

"Harapannya semoga hakim membebaskan enam aktivis Papua. Karena mereka tidak melakukan makar/serangan terhadap negara. Keenam aktivis hanya aksi secara damai sesuai UU 9/98 merespons rasisme," kata Oky, dalam keterangannya, Jumat (24/4/2020).

Sebelumnya, terdakwa Paulus Suryanta Ginting, Charles Kossay, Ambrosius Mulait, Anes Tabuni, dan Arina Elopere dituntut 1 tahun 5 bulan. Sementara terdakwa Isay Wenda dituntut 10 bulan dengan perintah para terdakwa tetap ditahan.

Jaksa menilai terdakwa terbukti bersalah melanggar Pasal 106 KUHP jo Pasal 55 ayat 1 KUHP. Adapun hal yang memberatkan ialah terdakwa mengganggu keutuhan dan dapat memecah belah NKRI, mengganggu stabilitas dan keamanan negara, mengganggu ketertiban umum, serta terdakwa memberikan keterangan berbelit-belit. Sementara hal yang meringankan, terdakwa Isay Wenda tidak berbelit-belit dan tegas memberikan surat pernyataan mengakui WNI dan mencintai NKRI.

Kasus itu bermula pada Minggu, 18 Agustus 2019, terkait pertemuan Paulus Suryanta Ginting, Charles Kossay, Ambrosius Mulait, Isay Wenda, Anes Tabuni, dan Arina Elopere dengan beberapa koordinator wilayah persatuan mahasiswa dan pemuda Papua di Jakarta. Dalam pertemuan itu, mereka bersepakat menggelar unjuk rasa di depan Mabes TNI AD dan Istana Negara untuk merespons insiden rasisme di Surabaya terhadap masyarakat Papua.

Selanjutnya, pada Kamis, 22 Agustus 2019, para terdakwa bersama peserta demo lainnya sekitar 200 orang menggelar unjuk rasa di depan Istana Negara dan Mabes TNI AD. Adapun unjuk rasa itu digelar dengan tuntutan rasisme, menyuarakan referendum, dan menuntut kemerdekaan Papua.

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2