Takut Dibakar, Kampung Arab di Palembang Jaga Malam
Rabu, 14 Des 2005 22:04 WIB
Pelembang - Takut diteror dengan aksi pembakaran, warga kampung Kuto Batu Palembang bergiliran jaga malam. Kampung yang sebagian besar beretnis Arab itu rencananya akan digusur untuk lokasi pembangunan jembatan Musi III. "Belajar dari sejarah penggusuran sebelumnya, biasanya selalu akan ada teror terhadap warga yang dilakukan sejumlah bandit, juga usaha membakar rumah warga yang hendak digusur," kata Acan, warga Kuto Batu kepada detikcom, Rabu (14/12/2005). Acan bersama beberapa warga lainnya di Kuto Batu melakukan jaga malam sejak Senin (12/12/2005) kemarin. Selain melakukan jaga malam, mereka pun membuat sejumlah spanduk di lorong atau jalan ke kampong padat itu. "Kami sudah bulat untuk menolak" begitu salah satu spanduk yang terpasang di kampong Kuto Batu. Menurutnya, teror sebenarnya sudah mulai terasa. Air PAM sudah tiga hari dihentikan. "Tapi mudah-mudahan itu cuma kebetulan," katanya. Setiap malam, baik di Kuto Batu maupun 13 Ulu dilakukan takziah yang dilakukan warga. "Kita ini hanya berusaha. Tetapi kehendak Allah tidak seorang pun mampu melawan, termasuk mereka yang mau menggusur kampung ini apabila Allah tidak menghendaki," kata Uztad Ali. Seperti diketahui dua kampung di tepi Sungai Musi yakni 13 Ulu dan Kuto Batu, yang sebagian besar adalah etnis Arab, akan digusur sebagai lokasi pembangunan jembatan Musi III yang akan menelan biaya pembangunan sebesar Rp 400 miliar. Dana ini merupakan pinjaman dari sebuah bank di Jepang. Rencana penggusuran tanpa sosialisasi maupun pendekatan itu tentu saja ditolak warga. Pada Senin (12/12/2005) mereka melakukan aksi ke kantor Dewan Sumsel dan Gubernur Sumsel. Di dua kampung itu, terdapat cagar budaya berupa rumah yang telah berumur ratusan tahun, rata-rata 250-300 tahun. Di Kuto Batu ada lima rumah tua, sementara di Lorong Al Munawar 13 Ulu, setidaknya enam rumah Limas. Lorong Al Munawar merupakan situs arkeologi yang terdaftar di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional melalui penelitian yang dilakukan Balai Arkeologi Palembang, 14-27 Oktober 1996. Situs-situs itu terletak di samping Sungai Temenggungan yang merupakan batas lebar pengembangan proyek. Jarak situs itu dari garis tengah Jembatan Musi III di Lorong Jaya RT 8 Kelurahan 13 Ulu sejauh 25 meter. Keenam situs tersebut letaknya tidak berjauhan antara satu dengan yang lainnya. Empat unit rumah ada di darat, sedangkan dua unit lainnya ada di laut. Dua dari enam Rumah Limas itu dinding lantai dasarnya terbuat dari beton (semi permanen), dan satu diantaranya dimanfaatkan sebagai pusat pendidikan Al Munawwar.Di antara keenam situs itu, rumah Limas berukuran 40 x 20 meter milik keluarga Salim Abubakar Asgaf (57) yang merupakan rumah tertua. Salim yang juga ketua RT 24 adalah keturunan kelima dari almarhum Said Abdurrahman bin Muhammad Al Munawwar yang beristrikan Mas Ayu Bariah."Jadi solusi pemindahan bukan yang terbaik. Yang terbaik tentu saja batalkan menggusur kampung kami. Kalau rumah yang terbuat dari kayu, masih bisa diusahakan pemindahannya, tapi bagaimana dengan rumah dari beton. Dan kami semua merupakan keluarga besar," kata Salim.
(atq/)











































