Ratusan Hektar Tanaman Padi di Bantul Terancam Puso

Ratusan Hektar Tanaman Padi di Bantul Terancam Puso

- detikNews
Rabu, 14 Des 2005 16:05 WIB
Yogyakarta - Ratusan hektar tanaman padi siap panen terancam puso dan gagal panen di Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Hal itu diakibatkan banjir yang melanda wilayah Selatan Bantulselama dua hari berturut-turut sehingga merendam tanaman padi."Kami belum bisa memastikan berapa jumlah lahan sawah yang terendam akibat banjir serta jumlah kerugian yang0diderita petani. Tapi perkiraannya lebih dari 100 hektar terutama di wilayah Kecamatan Sanden," kata EdySuharyanto Kasi Bina Program Dinas Pertanian Bantul kepada wartawan di kantornya Jl Dr Wahidin Sudirohusodo Bantul, Rabu (14/12/2005).Menurut Edy, lahan persawahan yang terendam banjir diantaranya di Kecamatan Sanden, Bambanglipuro dan Pundong. Di Kecamatan Sanden lahan yang terendam air diantaranya di Desa Poncosari, Murtigading dan Srigading, akibat luapan Sungai Progo. Namun yang parah terjadi di Desa Poncosari, sebagian besar sawah terendam hingga ketinggian setengah meter. "Di Poncosari sedikitnya 50 hektar yang terendam air sejak Senin (12/12/2005) kemarin," katanya.Edy mengatakan setelah terendam air pada hari Selasa kemarin petani berusaha membedah beberapa areal sawah yang terendam untuk dibuang airnya ke sungai atau saluran irigasi lainnya. Namun ternyata gagal karenabeberapa saluran irigasi juga sudah penuh air luapan. "Para petugas pertanian di kecamatan bersaam petani berusaha maksimal agar air cepat terbuang. Bila tidak tanaman padi berusia lebih dari 40 hari ini akan busuk dan puso," katanya.Namun demikian Edy tidak terlalu mengkhawatirkan adanya banjir tersebut. Sebab hingga akhir tahun 2005 ini pertanian Bantul msih surplus beras sekitar 13 ribu ton. Kalaupun saat ini ada beberapa areal yang terendam banjir tidak mempengaruhi wilayah lain yang menjadi sentra padi seperti kecamatan Pandak, Bantul, Jetis, Sewon, Banguntapan dll. "Sejak petengahan tahun 2005 kita surplus beras sehingga kalau akhir tahun ini ada yang gagal panen akibat banjir tidak terlalu berpengaruh," tegas Edy.Menurut salah seorang petani Desa Srigading Kecamatan Sanden, Saryanto (37) banjir tersebut terjadi karena hujan deras yang menguyur selama dua hari terakhir. Akibatnya Sungai Winonggo, Opak, dan Progo meluap masuk ke sawah.Dia memperkiraka dari setengah hektar sawah yang digarapnya bakal rusak akibat banjir bila tidak segera di atasi. Selama menggarap sawah miliknya itu, keluarganya sudah mengeluarkan lebih kurang Rp 3 juta untuk pembelian pupuk, bibit dan pemeliharaan. (jon/)


Berita Terkait