Seekor Bayi Orang Utan Lahir di Taman Nasional Gunung Palung

Abu Ubaidillah - detikNews
Selasa, 21 Apr 2020 16:34 WIB
Orang utan dan bayinya
Foto: Dok. KLHK
Jakarta -

Susi, orang utan hasil rehabilitasi Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat pada awal Maret 2020 berhasil melahirkan. Bayi milik Susi yang merupakan kelahiran kedua di kawasan Taman Nasional (TN) Gunung Palung kemudian oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya diberi nama Sinar.

Kelahiran Sinar yang berjenis kelamin perempuan pertama kali diketahui oleh tim monitoring International Animal Rescue (IAR) Indonesia yang memantau perkembangan Susi di habitat alaminya selama 4 tahun terakhir. Berdasarkan pantauan dokter hewan di lapangan, Sinar menunjukkan kondisi yang sehat dan aktif menyusu. Susi juga menunjukkan afeksi dan perhatiannya dengan menyusui Sinar dengan baik.

Sebelumnya, Susi merupakan orang utan peliharaan yang berhasil diselamatkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama IAR Indonesia di Pontianak pada 30 Juli 2011 atau sekitar 9 tahun lalu. Saat itu, kondisi Susi cukup memprihatinkan. Rantai yang terpasang pada leher menyebabkan luka infeksi terbuka, bernanah, dan mengeluarkan bau tak sedap. Bahkan, terdapat karet yang tertanam di kulit lehernya. Setelah melalui masa rehabilitasi, Susi dilepaskan ke hutan lindung Gunung Tarak pada 20 Mei 2016 yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Palung.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian LHK, Wiratno menyebut keberhasilan pelepasliaran Susi merupakan salah satu bukti kekuatan kerja sama antar stakeholder konservasi orang utan di Kalimantan Barat, pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, masyarakat, dan LSM.

"Tidak hanya itu, masyarakat sekitar lokasi rehabilitasi juga telah banyak terlibat dalam kegiatan ini, mulai dari merawat satwa, melepasliarkan hingga memantau satwa di habitat alaminya. Semoga kesadaran masyarakat untuk melestarikan orang utan semakin tinggi," ujar Wiratno dalam keterangan tertulis, Selasa (21/4/2020).

Wiratno menambahkan, orang utan merupakan spesies 'payung' dalam sebuah ekosistem yang berperan besar dalam menjaga ekosistem secara luas. Sebab daya jelajah orang utan luas dan berdampak positif terhadap kelestarian ekologi yang ada di lokasi tempat hidupnya dengan menyebar biji ke wilayah hutan.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung, Ari Wibawanto mengatakan bahwa kawasan hutan lindung Gunung Tarak juga berperan penting dalam keberhasilan kelahiran ini, antara lain adalah faktor keamanan kawasan dan mempunyai jenis pakan orang utan yang melimpah.

Direktur program IAR Indonesia, Karmele I. Sanchez teringat ke masa di mana ia harus membuka rantai dari leher Susi. Ia mengatakan sangat sedih melihatnya, namun saat ini merasa gembira melihat orang utan yang dulu hidup terkekang dan menderita kini bisa hidup dengan bebas dan bahkan telah memiliki anak.

Karmele menambahkan, selama menjalani perawatan dan rehabilitasi, kondisi Susi semakin membaik, tidak hanya fisik melainkan juga mental. Susi telah mampu beradaptasi dan menjadi orang utan sejati di Gunung Tarak.

Kepala Dinas LHK Provinsi Kalimantan Barat, Adi Yani menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat telah mengambil kebijakan untuk menyelamatkan habitat dan koridor satwa dilindungi dengan menetapkan hutan lindung Gunung Tarak sebagai Kawasan Ekosistem Esensial.

Keputusan tersebut telah tertuang pada Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Barat nomor 718/Dishut/2017 tanggal 17 November 2017, tentang Penetapan Kawasan Ekosistem Esensial di Kabupaten Kayong Utara dan Kabupaten Ketapang Provinsi Kalimantan Barat.

"Hutan Lindung Gunung Tarak merupakan kawasan penyangga dari TN Gunung Palung yang merupakan lokasi besar tempat hidupnya spesies orang utan," jelas Adi.

Adi juga menyampaikan bahwa dengan terjaganya ekosistem satwa-satwa dilindungi, maka keseimbangan alam akan terjadi sehingga memberi dampak positif secara luas termasuk kualitas hidup masyarakat.

(prf/ega)