Hari Kartini, Pimpinan MPR Ajak Hapus Diskriminasi Terhadap Perempuan

Faidah Umu Sofuroh - detikNews
Selasa, 21 Apr 2020 16:14 WIB
Lestari Moerdijat
Foto: MPR
Jakarta -

Kartini adalah sosok yang menginspirasi pergerakan dan emansipasi perempuan Indonesia melalui karyanya: Dari Kegelapan Menuju Cahaya. Sebagian surat dalam bukunya itu menggugat budaya sebagai penghambat kemajuan perempuan.

Wakil Ketua MPR, Lestari Moerdijat menilai perjuangan Kartini membawa banyak perubahan untuk perempuan Indonesia. Mengutip Kartini, Lestari mengatakan perempuan mesti memiliki ruang untuk pengembangan diri (self development), percaya diri (self confidence), belajar mandiri (self teaching), berkegiatan sendiri (self activity) dan solidaritas perempuan.

"Semangat Kartini masih relevan hingga saat ini untuk perjuangan perempuan. Kartini telah meletakkan dasar pemikiran perempuan tersebut atas dasar ketuhanan, kebijaksanaan dan keindahan. Tema lain yang diusung Kartini adalah humanisme dan nasionalisme," kata Lestari dalam keterangannya, Selasa (21/4/2020).

Untuk itu, ia mengapresiasi perempuan yang memperjuangkan kesetaraan di berbagai bidang. Seperti akses yang sama untuk mendapatkan pendidikan setinggi mungkin hingga kesetaraan gender di dunia pekerjaan.

Memang saat ini perempuan sudah menempati posisi di pemerintahan, birokrasi, dan politik. Namun, ia tetap meminta pemerintah mendorong terciptanya gerakan perempuan mandiri di bidang ekonomi dan membuka ruang untuk representasi perempuan di bidang eksekutif.

Lestari menilai masih sering terjadi diskriminasi terhadap perempuan di bidang sosial dan budaya yang terus melihat perempuan sebagai objek. Lantaran itu, dia mengajak pemerintah dan masyarakat berkolaborasi mengeliminir diskriminasi terhadap perempuan di bidang sosial dan budaya.

"Masyarakat perlu dibangun kesadaran bahwa perempuan adalah partner hidup, partner kerja bukan objek yang direduksi pada kebutuhan fisik semata," ujarnya.

Selain itu, imbuhnya, perempuan masih mengalami tindak dan ragam kekerasan. Dalam tindak kekerasan di lingkup rumah tangga atau kasus pelecehan seksual yang diikuti kekerasan fisik, perempuan seringkali menjadi objek bukan subjek. Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah untuk tegas, tanggap dan responsif terhadap ragam kekerasan terhadap perempuan di Tanah Air.

Peran Wanita di Tengah Pandemi Corona:

(akn/ega)