Salut! Sekelompok Mahasiswa Kembangkan Ventilator Berbasis IoT

Angga Laraspati - detikNews
Selasa, 21 Apr 2020 15:55 WIB
Ventilator
Foto: Angga Laraspati/detikcom
Jakarta -

Dalam membantu menangani virus Corona lima mahasiswa Universitas Gunadarma Depok mengembangkan sebuah ventilator portabel untuk membantu pernafasan pasien yang dirawat di rumah sakit. Berkolaborasi dengan ahli robot Indonesia, Yohannes Kurnia, ventilator yang masih dalam tahap pengembangan ini diberikan nama 'Robovent' dan sudah berbasis Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT).

Pengembangan yang dilakukan antara fakultas kedokteran dengan fakultas teknologi industri dan fakultas ilmu komputer Universitas Gunadarma ini merupakan yang bisa dioperasikan secara mudah. Yohannes Kurnia yang juga merupakan staff pengajar di Fakultas Robotik Universitas Gunadarma menyebutkan, ventilator yang dikembangkannya bersama mahasiswa ini mempunyai teknologi yang dapat memantau kondisi pasien dari jarak jauh.

"Robovent tipe 1 ini dibuat secara lowcost dan mempunyai 8 sensor yang berbasis IoT. Adapun untuk sensor yang dapat dilihat oleh dokter secara digital. Nanti sensor tersebut dapat dilihat di smartphone," ujar Yohannes Kurnia saat ditemui di Universitas Gunadarma, Selasa (21/4/2020).

Adapun untuk laporan dari mesin tersebut yang dapat dilihat seperti volume oksigen yang dihirup, berapa detik pasien bernafas, berapa banyak pasien menghirup dan menghembuskan nafas, perbandingan antara keduanya dan juga fraksi oksigen.

Nantinya dokter dapat melihat laporan tersebut dari aplikasi yang sedang dikembangkan juga oleh para mahasiswa ini. Selain berbasis IoT, Robovent juga merupakan ventilator yang berbasis AI. Sehingga tenaga medis dapat dengan mudah mengatur pressure oksigen dan juga pressure treatment kepada pasien COVID-19.

"Pasien Corona itu dalam treatmentnya membutuhkan yang namanya pressure udara karena paru-paru mereka yang sudah mulai mengempis. Pada orang biasa perbandingan nafasnya itu 1:2 berbeda dengan pasien yang terpapar itu perbandingannya 1:1. Jadi tenaga medis dapat mengatur tekanan oksigen dengan menggunakan teknologi AI sehingga pressure yang diberikan tidak melewati batasan yang ditentukan," tambahnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Teknologi Industri Universitas Gunadarma, Adang Suhendra mengatakan ventilator yang dikembangkan ini juga sudah dikoordinasikan dengan Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) sehingga sudah sesuai dengan standardisasi yang ditentukan.

"Ini kita sudah berkali-kali datang ke BPFK untuk berkoordinasi tentang alat ini. Selain itu, nanti pada hari Senin kita akan dapat list parameternya dan kemudian kita akan datang lagi ke BPFK untuk dicek secara lanjut demi pengembangan lebih jauh," tuturnya

Adang berharap akan ada lebih banyak lagi mahasiswa yang berpartisipasi dalam pengembangan penemuan ini.

(prf/mpr)