Hari Kartini, NU Soroti Maraknya Kasus KDRT-Pelecehan Seksual Dialami Wanita

Tiara Aliya Azzahra - detikNews
Selasa, 21 Apr 2020 12:33 WIB
Sekretaris Lembaga Penanggulangan Bencana Dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Yayah Ruchyati.
Yayah Ruchyati (Screenshot YouTube BNPB)
Jakarta -

Sekretaris Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Yayah Ruchyati menyoroti kasus-kasus yang merugikan perempuan. Yayah meminta pemerintah menjadikan Hari Kartini sebagai momentum untuk lebih meningkatkan perlindungan, baik dari segi aturan maupun sikap, untuk para perempuan di Indonesia.

"Kita nggak bisa menjaga (keamanan perempuan) seperti kasus biasanya. Jadi ini kasusnya khusus," kata Yayah dalam konferensi pers yang disiarkan langsung di YouTube BNPB, Selasa (21/4/2020).

Yayah menekankan, perempuan memiliki peran strategis di kehidupan. Pemerintah harus menjamin perlindungan perempuan dari diskriminasi, apalagi di tengah pandemi Corona ini.

"Perempuan itu punya peran penting dan strategis tapi kita juga dapatkan proteksi terkait diskriminasi. Di situasi kritis ini, di jalan dan pelecehan seksual harus diproteksi betul oleh pemerintah," jelasnya.

Kemudian, Yayah pun menyoroti kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di tengah-tengah pandemi Corona. Menurutnya, KDRT bisa dipicu oleh faktor ekonomi akibat penerapan PSBB.

"Kemudian yang saya temui banyak kasus KDRT. Justru ketika sering di rumah, faktor ekonomi juga sih, misal pemasukan ada tiap hari kemudian dengan PSBB ini jadi berkurang, efeknya suaminya jadi marah-marah," ujarnya

Namun, dalam konteks ini, Yayah pun memberi saran bagi perempuan agar bisa menciptakan suasana rumah yang nyaman. Hal ini bertujuan untuk meredakan konflik rumah tangga. Dengan begitu, Ia berharap kasus KDRT di Indonesia bisa lebih rendah dari negara lainnya.

"Peran perempuan ini penting bagaimana ciptakan suasana rumah yang nyaman, seperti itu. Jadi banyak sekali kasus," katanya.

"Misalnya kasus di Prancis dan jepang tinggi sekali ya KDRT-nya. Mudah2han perempuan di Indonesia tidak seperti itulah, agak berkurang," sambungnya.

(zak/zak)