Jelang Puasa, Tradisi Tarhib Ramadhan di Indonesia dan Negara Lain

Rosmha Widiyani - detikNews
Selasa, 21 Apr 2020 06:00 WIB
Image of silhouette hand man praying with sunset background
Foto: iStock/Jelang Puasa, Tradisi Tarhib Ramadhan di Indonesia dan Negara Lain
Jakarta -

Menjelang puasa, Indonesia dan beberapa negara lain punya tradisi khas tarhib Ramadhan 2020. Tradisi ini dijalankan saat tidak ada aturan untuk mencegah infeksi COVID-19, misal larangan berkumpul dan social distancing.

Dengan situasi pandemi virus corona, tradisi kemungkinan tidak bisa dilakukan saat ini. Meski begitu, tak ada salahnya mengenal tradisi tarhib Ramadhan di Indonesia dan beberapa negara lain di dunia.


1. Tradisi tarhib Ramadhan di Indonesia

Menjelang puasa Ramadhan, sebagian muslim di Indonesia punya tradisi membersihkan diri yang disebut padusan. Istilah padusan dalam bahasa Jawa artinya memandikan yang bertujuan mensucikan diri. Tradisi dijalankan dengan merendam diri dalam kolam sehingga seluruh tubuh basah.

Dikutip dari The Culture Trip, padusan adalah hasil perpaduan kebudayaan dan agama di Indonesia. Kolam memiliki arti penting bagi masyarakat Jawa dan punya peran utama dalam padusan. Praktik ini dipercaya disebarkan Wali Songo dan ulama lain yang berdakwah di Jawa. Di zaman dulu, pemimpin agama dan masyarakat memilih kolam yang dianggap sakral untuk padusan. Saat ini masyarakat memilih membersihkan diri di rumahnya sendiri.

2. Tradisi tarhib Ramadhan di Uni Emirat Arab (UEA)

Tradisi haq al laila di UEA sering dibandingkan dengan trick or treat di negara barat. Haq al laila dilakukan tiap 15 Syaban yaitu bulan sebelum Ramadhan dalam penanggalan Hijriah. Tradisi dilakukan anak-anak yang berjalan mengeliling lingkungan rumah dengan pakaian berwarna terang. Mereka mengumpulkan kacang dan permen dari para tetangga dalam tote bag yang disebut kharyta.

Saat berjalan, anak-anak menyanyikan lagu tradisional setempat atau mengucapkan Aatona Allah Yutikom, Bait Makkah Yudikum. Artinya adalah Berikan pada kami (kacang atau permen) dan Allah akan membalas kebaikanmu dan menolongmu mengunjungi Kakbah di Makkah. Seiring waktu terjadi perubahan pada tradisi haq al laila, yaitu anak-anak tak perlu lagi berjalan keliling lingkungan rumah. Anak-anak cukup mengunjungi dan menyampaikan hormat pada anggota keluarga yang lain.

3. Tradisi tarhib Ramadhan di Mesir

Setiap tahun, warga Mesir menyambut Ramadhan dengan lentera warna-warni dengan berbagai corak. Lentera menjadi simbol persatuan dan rasa senang memasuki bulan suci Ramadhan. Ada berbagai versi cerita di balik tradisi ini, namun yang paling terkenal ada kaitannya dengan Kekhalifahan Fatimiyah.

Warga Mesir dikisahkan menyambut kedatangan kalifah Al-Muʿizz li-Dīn di Kairo pada awal Ramadhan. Saat itu jalanan Mesir gelap, sehingga masyarakat diminta menyalakan lentera untuk menerangi jalan. Seiring waktu, lentera menandai awal Ramadhan yang dibawa anak-anak sambil meminta permen atau makanan kecil. Selain menyambut Ramadhan, lentera warna-warni juga digunakan pada perayaan tertentu di masyarakat.

4. Tradisi tarhib Ramadhan di Albania

Selama berabad-abad, komunitas Roma Muslim di Albania punya tradisi mengawali dan mengakhiri puasa Ramadhan dengan lagu-lagu tradisional. Tradisi kemungkinan dilakukan sejak zaman kekuasaan Ottoman di wilayah tersebut. Lagu-lagu Ramadhan dinyanyikan dengan iringan alat musik lodra.

Instrumen musik lodra adalah drum berbentuk silinder berlapis kulit kambing atau sapi. Lodra dimainkan bersama-sama saat pawai di sepanjang jalan. Selain itu, lodra juga bisa dimainkan bersama keluarga mengawali buka puasa di rumah masing saat Ramadhan.

(row/erd)