Wuih! 34% Siswa SMP Merokok
Rabu, 14 Des 2005 11:21 WIB
Jakarta - Anda memiliki putra-putri yang masih duduk di bangku SMP? Awasilah baik-baik. Sebab jangan-jangan di belakang Anda mereka kebal-kebul mengisap sigaret.Soalnya, angka merokok di kalangan murid sekolah usia SMP cukup tinggi, yaitu sekitar 34%. Demikian hasil survei merokok pada remaja alias Global Youth Tobacco Survey (GYTS) Indonesia.Survei ini merupakan bagian survei WHO dan CDC (Atlanta) yang diselenggarakan di lebih dari 100 negara di dunia. Indonesia juga turut berpartisipasi dalam survei ini yakni dengan melakukannya di Jakarta, bekasi, dan Medan. Tjandra Yoga Aditama SpP(K), DTM&H, MARS, bertindak sebagai peneliti utama GYTS Indonesia.Kepada detikcom, Rabu (14/12/2005), Tjandra Yoga Aditama yang merupakan dokter spesialis penyakit paru-paru, memaparkan rangkuman hasil survei itu. Kajian dilakukan dalam 5 topik bahasan yaitu pravalensi merokok, perokok pasif, iklan rokok, remaja membeli rokok dan berhenti merokok.Untuk poin prevalensi merokok, data GYTS menunjukkan bahwa di Jakarta didapatkan 34 persen murid sekolah usia SMP pernah merokok dan 16,6 persen saat ini masih merokok.Di Bekasi didapatkan 33 persen murid sekolah usia SMP pernah merokok dan 17,1 persen saat ini masih merokok.Di Medan didapatkan 34,9 persen murid sekolah usia SMP pernah merokok dan 20,9 persen saat ini masih merokok."Data rerata di Indonesia lebih tinggi daripada data di Bhutan yakni sekitar 20% dan di India atau Bangladesh yang angkanya berada di bawah 10 persen," kata Tjandra.Sehubungan dengan temuan memprihatinkan hal itu, Tjandra dkk mengusulkan beberapa hal. Pertama, membuat dan memakai kurikulum yang memuat bahaya merokok serta melakukan program pelatihan pada guru serta murid. Kedua, kurikulum yang memuat bahaya merokok sebaiknya dimuat pada semua kurikulum sekolah dasar dan menengah, sekolah kedokteran atau sekolah paramedis.Ketiga, membuat kegiatan yang sifatnya mendukung anti merokok serta bahaya merokok pada usia sekolah. Keempat, pelatihan tentang bahaya merokok pada media baik elektronik dan non elektronik. Kelima, membangkitkan kesadaran tentang bahaya merokok dengnan cara mengikutsertakan media elektronik dan non elektronik tentang bahaya merokok, kecanduan rokok, dampak sosial dan ekonomi akibat rokok pada publik terutama anak-anak, dewasa muda serta usia produktif."Terakhir, melakukan usaha counter marketing guna mengurangi atau meniadakan keterlibatan industri rokok pada usia anak, usia dewasa muda serta usia produktif," kata Tjandra.
(nrl/)











































