Terima Bantuan Sembako, Warga Suku Laut Batam Menangis Haru

Agus Siswanto Siagian - detikNews
Senin, 20 Apr 2020 09:10 WIB
Warga suku laut Batam terima bantuan sembako
Foto: Warga suku laut Batam terima bantuan sembako (Agus/detikcom)
Batam -

Sebanyak 200 warga Suku Laut Batam menerima bantuan sembako. Bantuan diberikan kepada warga yang terdampak pandemi COVID-19, mereka pun menerima dengan rasa haru.

Sembako berisi beras, gula, mie instan dan susu ini dibagikan untuk 200 warga yang tinggal di pinggiran laut di Pulau Nipah, Kampung Tua Tiang Wangkang, Batam, Kepulauan Riau. Bantuan yang disalurkan merupakan sumbangan dari komunitas jemaat GPIB Zebulon yang dikumpulkan secara spontan.

Menurut Koordinator Zebulon Peduli, Celcon Carliston mengatakan pihaknya memilih berbagi sembako pada warga pesisir. Dia menyebut para nelayan juga terdampak secara ekonomi, khususnya warga yang tinggal di pedalaman (hinterland) yang jauh dari kota Batam.

"Komunitas GPIB Zebulon Batam lebih memilih pada masyarakat pedalaman seperti nelayan dan suku laut, yang keseharian mereka hidup bergantung pada pencarian di laut," kata Celcon di Batam, Minggu (19/4/2020).

Cegah Corona, Sejumlah Komunitas di Kendari Bagikan Masker Gratis:

Sebelum mewabahnya COVID-19, warga masih bisa bergantung pada penjualan ikan di laut kepada pemilih restoran. Sementara para pemilik restoran apung di laut terpaksa tutup sejak mewabahnya virus Corona.

Sejumlah peraturan pemerintah pusat dan kebijakan yang di keluarkan oleh Gubernur Kepri untuk pencegahan penularan Corona. Seperti seruan physical distancing atau pembatasan sosial guna memutus mata rantai penyebaran COVID-19 di Provinsi Kepulauan Riau.

Warga suku laut, Ibrahim mengaku terharu dan menangis mendapat sentuhan yang selama pandemi tidak ada dikunjungi untuk berbagi sembako. Dia mengatakan pandemi Corona sangat berdampak terhadap perekonomian.

"Sebelum ada virus corona, kami masih bebas menjual hasil tangkapan laut pada sejumlah restoran terapung yang kerap dinikmati para turis dari Singapura dan Malaysia," kata Ibrahim.

Selain itu masih banyak warga pedalaman yang berhenti bekerja dari restoran terapung, ada juga warga hinterland yang berhenti bekerja di hotel dengan status dirumahkan.



(lir/lir)