Depag Harus Awasi Kurikulum Tersembunyi Pesantren
Selasa, 13 Des 2005 17:36 WIB
Jakarta - Aksi terorisme yang melibatkan santri dan alumni pesantren seharusnya menjadi tanggung jawab Departemen Agama. Pengawasan yang lemah terhadap kurikulum tersembunyi di beberapa pesantren diduga menjadi benih bagi tumbuhnya pelaku terorisme lainnya."Kurikulum di pesantren sebenarnya cukup ideal, karena memakai kurikulum dari Depag dan Depdiknas. Tapi yang perlu diwaspadai adalah hidden curriculum yang disampaikan guru yang pemahaman Islamnya literal, keras atau radikal," papar Rektor UIN Azyumardi Azra.Hal ini disampaikan dia usai acara penandatanganan kerjasama pendidikan antara UIN dengan Liga Universitas Arab, di Kampus UIN, Ciputat, Banten, Selasa (13/12/2005).Untuk itu, lanjutnya, Depag sebagai lembaga yang berwenang mengatur kurikulum harus bertanggung jawab terhadap adanya alumni pesantren yang menjadi teroris."Bukan kepolisian, karena dalam UU Pendidikan kita, yang bertanggung jawab adalah Depag. Itu (kurikulum tersembunyi) biasanya disampaikan habis salat subuh, isya, dan di luar kelas. Ini yang harus dilihat oleh Depag," pintanya.Azyumardi mengusulkan cara menangkal terorisme di pesantren dengan menyeimbangkan kurikulum dan proses pengajaran di pesantren, yaitu tidak hanya memberikan pelajaran agama saja, namun juga pelajaran umum."Misalnya bisa juga dengan memberikan penjelasan yang lebih luas tentang haramnya bunuh diri dan aksi terorisme," usul Azyumardi.Diakuinya, memang beberapa pelaku teroris seperti pelaku bom Bali I dan bom di Hotel JW Marriott adalah santri dan alumni pesantren. Namun untuk menjadi pelaku bom bunuh diri, mereka harus melalui pelatihan yang rumit seperti pelatihan perang di Mindanao dan Afghanistan."Untuk menangkalnya, harus ada pengawasan terhadap santri yang pergi latihan perang di beberapa negara. Depag harus memagari pesantren dari usaha-usaha kelompok tertentu yang merekrut santri atau pun alumni pesantren," ujarnya.Azyumardi pun menyatakan tidak setuju apabila rencana pengambilan sidik jari terhadap para santri jadi dilakukan. Menurutnya, tindakan itu berlebihan dan kontraproduktif."Lagipula itu hanya menimbulkan reaksi balik yang keras dari umat Islam. Umat Islam malah menjadi apatis dan tertutup," tegasnya.
(bal/)











































