Berapa Jumlah Penduduk Indonesia 2020? Naik atau Turun?

Rosmha Widiyani - detikNews
Selasa, 14 Apr 2020 06:15 WIB
Jakarta tak hanya diisi gedung bertingkat. Permukiman padat penduduk pun tak sulit ditemukan di ibu kota, salah satunya di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat.
Foto: Pradita Utama/Berapa Jumlah Penduduk Indonesia 2020? Naik atau Turun?
Jakarta -

Pemerintah Indonesia saat ini sedang melakukan sensus penduduk lewat online atau didatangi petugas langsung. Sensus untuk mengetahui jumlah penduduk Indonesia 2020 ini sekarang tengah menunggu hasil.

Sebelum sensus dilakukan, pemerintah telah menyusun proyeksi untuk mengetahui jumlah penduduk Indonesia 2020. Proyeksi adalah perkiraan total penduduk yang disusun Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dalam Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035.

Jumlah penduduk Indonesia 2020 berada di kisaran 271 juta jiwa dengan paling banyak menghuni Pulau Jawa. Setelah Pulau Jawa adalah Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali dan Nusa Tenggara. Pulau Papua dan Kepulauan Maluku memiliki jumlah penduduk terkecil berdasarkan perkiraan tersebut.

Dalam proyeksi tersebut, jumlah penduduk Indonesia 2020 di Pulau Jawa mencapai lebih dari separuh total demografi. Pulau Jawa diperkirakan dihuni 152 juta jiwa, sementara Sumatera menjadi rumah sekitar 59 juta jiwa. Sebanyak 19 juta jiwa diperkirakan menghuni Pulau Sulawesi, 16 juta jiwa di Kalimantan, serta 15 juta jiwa di Bali dan Nusa Tenggara.

Seiring tahun, jumlah penduduk Indonesia 2020 hingga tahun mendatang diperkirakan makin padat. Proyeksi jumlah penduduk Indonesia pada 2025 adalah 284 juta jiwa dan 296 juta jiwa di tahun 2030. Pada tahun 2035, jumlah penduduk Indonesia diproyeksikan mencapai 305 juta jiwa.

Proyeksi jumlah penduduk Indonesia 2020 yang makin padat tiap tahun tentu punya dampak positif. Namun padatnya penduduk ternyata menyimpan risiko misal saat ada wabah seperti virus corona saat ini. Padatnya penduduk memudahkan penyebaran virus karena sering kontak dengan orang lain tiap hari.

"Kepadatan penduduk adalah musuh pada situasi seperti sekarang. Dengan populasi yang besar, orang saling berinteraksi setiap hari dan dengan cara itulah virus menyebar dengan cepat," kata ahli epidemiologi Dr Steven Goodman dari Stanford University dikutip dari New York Times.

Penduduk yang terkonsentrasi di satu lokasi mengakibatkan virus makin mudah menyebar. Lokasi ini misalnya area tempat tinggal dan transportasi publik. Dampak negatif virus makin cepat dirasakan di wilayah berpopulasi besar dengan penduduk terpusat dibandingkan yang tersebar.

Salah satu contoh wilayah padat penduduk adalah New York yang memiliki populasi paling tinggi di Amerika Serikat. New York melakukan social distancing, menutup sekolah, dan mendorong warganya tinggal di rumah untuk menekan risiko penyebaran virus corona. Namun dampaknya tidak langsung terlihat karena jumlah penduduk yang besar dan padat.

Pengalaman New York harus membuat Indonesia belajar menghadapi serangan wabah. Dengan persiapan dan pencegahan yang baik, penyebaran wabah bisa diantisipasi sejak dini di wilayah berpopulasi tinggi. Jumlah penduduk Indonesia 2020 yang tinggi hingga beberapa tahun mendatang tak perlu mengalami dampak wabah yang sangat buruk.

(row/erd)