Jadi Perantara, Eks Panitera PN Jaksel Disanksi Berat

Andi Saputra - detikNews
Minggu, 12 Apr 2020 11:50 WIB
Ilustrasi suap, ganti rugi
Foto Ilustrasi (Andhika Akbarayansyah/detikcom)
Jakarta -

Mantan Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) I Gde Ngurah Arya Winaya dijatuhi sanksi berat. Winaya, yang kini menjadi Panitera Pengadilan Tinggi (PT) Mataram, terbukti menjadi perantara untuk keuntungan pribadi.

Saksi itu tertuang dalam keputusan Badan Pengawas Mahkamah Agung (Bawas MA) yang dikutip detikcom dari website-nya, Minggu (12/4/2020). Winaya terbukti melanggar Pasal 4 ayat 2 PP Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri. Pasal 4 ayat 2 berbunyi:

Setiap PNS dilarang menjadi perantara untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan/atau orang lain dengan menggunakan kewenangan orang lain.

Oleh sebab itu, Winaya dijatuhi hukuman sesuai Pasal 7 ayat 4 PP 53/2010, yaitu:

Jenis hukuman disiplin berat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c terdiri dari:
a. penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 3 (tiga) tahun;
b. pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah;
c. pembebasan dari jabatan;
d. pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai PNS; dan
e. pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS.

"Hukuman disiplin yang dijatuhkan: Hukuman disiplin berat penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 3 (tiga) tahun dengan akibat hukumnya dikurangi tunjangan remunerasi sebesar 100 persen setiap bulannya selama 3 tahun," demikian bunyi keputusan Bawas MA.

Lalu, apa kesalahan konkret yang dibuat Winaya? Keputusan Bawas MA itu tidak menyebutkan detail. Namun dari catatan detikcom, Winaya berulang kali diperiksa KPK buntut OTT Panitera Pengganti PN Jaksel, Tarmizi.

Tarmizi menjanjikan bisa mengurus kasus perdata dengan mendapatkan suap Rp 300 juta. Suap itu dari pengusaha Dirut PT Aquamarine Divindo Inspection, Yunus Nafik, lewat pengacara Ahmad Zaini.

I Gde Ngurah Arya WinayaI Gde Ngurah Arya Winaya (Foto: Dok Istimewa)

Licinnya Tarmizi, uang suap itu disarukan lewat rekening petugas kebersihan PN Jaksel.

Tarmizi akhirnya dihukum 4 tahun penjara. Namun di tingkat PK, majelis hakim agung menyunat hukuman Tarmizi menjadi 3 tahun penjara.

Bagaimana dengan Yunus? MA menghukum Yunus selama 2 tahun 4 bulan penjara dan denda Rp 50 juta. Adapun Ahmad Zaini dihukum 2,5 tahun penjara.

(asp/zlf)