Dilantik, Kadinkes Bogor Akan Sentralisasi RSUD untuk Tangani Corona

Yudistira Imandiar - detikNews
Jumat, 10 Apr 2020 10:01 WIB
Wakil Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim
Foto: Pemkot Bogor
Jakarta -

Wakil Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim melantik dr. Sri Nowo Retno, MARS sebagai Kepala Dinas Kesehatan Bogor. Setelah dilantik, dr. Retno diberi mandat untuk menjadi pemimpin dalam penanganan COVID-19 di Kota Bogor.

"Dengan segala keterbatasan, kemudian juga kita dalam rangka lebih mengefektifkan peran dari pada Dinkes, pada akhirnya diputuskan dengan cepat dan kami lantik. Hari ini kita laksanakan proses akhir dari rangkaian seleksi dan kemudian kita lakukan wawancara tahap akhir bersama Pak Wali juga lewat video conference," jelas Dedie dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Jumat (10/4/2020). .

Di tengah situasi darurat Corona saat ini, Dedi mengatakan, butuh pemimpin yang dapat memberikan solusi penanganan dengan tepat. Peran itu yang akan dijalankan oleh Kadinkes yang baru.

"Dengan keterbatasan kita, kita berusaha dalam 25 hari terakhir, mencoba mengontrol, mencoba mencari solusi jangka pendek dan boleh dibilang semuanya dilaksanakan secara common sense, apa yang kita bisa lakukan ya kita lakukan selama itu masih di area kewenangan kita," ujar Dedie.

Sementara itu, dijelaskan Dedie, dalam beberapa hari ke depan, Bogor akan menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Ia mengatakan, dalam pemberlakuan kebijakan tersebut ada beberapa batasan-batasan dalam kegiatan masyarakat.

"Hari-hari ke depan kita sedang berusaha untuk memproses PSBB, di mana pembatasan PSBB ini enam poin sudah kita laksanakan semua, mulai dari pembatasan belajar mengajar, pembatasan di sektor perdagangan dan swasta sudah kita lakukan, bahkan pembatasan di sektor spiritual keagaman kita sudah memberikan surat keputusan bersama tentang pelarangan melaksanakan peribadatan di tempat-tempat ibadah dengan menggantikan dengan ibadah di rumah. Tentu itu sangat berat," ujar Dedie.


"Kemudian dengan hadirnya dokter Retno, melaksanakan tugas sebagai Kadinkes, tentu saya berharap bisa lebih efektif," lanjutnya.

Di awal masa kepemimpinannya, dr. Retno menyiapkan langkah antisipasi jika terjadi outbreak atau lonjakan pasien COVID-19 di Kota Bogor. Ia menjelaskan, diperlukan persiapan fasilitas kesehatan serta SDM untuk bisa menangani pasien dalam jumlah banyak.

"Kita harus bergerak cepat dengan kondisi keterbatasan. Saat ini RSUD Kota Bogor sudah ditunjuk menjadi RS rujukan COVID-19 oleh SK Gubernur tetapi memang kapasitasnya belum memenuhi. Jadi sekarang sedang disiapkan rencana kita ingin sentralisasi di RSUD untuk 120 tempat tidur yang kita siapkan dengan memanfaatkan satu gedung baru," ungkap dr. Retno.

Untuk mendukung proses sentralisasi RSUD tersebut, lanjut Retno, akan melibatkan SDM dari berbagai rumah sakit dan puskesmas. "SDM akan kita bantu dengan melibatkan dari SDM rumah sakit lain yang kita jadwalkan. Kemudian dari tenaga puskesmas yang biasanya di bertugas rawat inap tapi tidak aktif, mungkin akan disiapkan untuk membantu RSUD," jelasnya.

Retno menambahkan, Dinkes akan menyiapkan tempat-tempat selain rumah sakit untuk merawat ODP atau PDP dengan gejala ringan.

"Ketika nanti terjadi outbreak dan ternyata RSUD dan RS lain juga tidak mampu lagi menampung, kita juga harus sudah menyiapkan tempat-tempat di luar fasilitas layanan kesehatan untuk merawat ODP atau PDP dengan gejala ringan semacam ruang isolasi yang seperti wisma atlet. Jadi pasien-pasien kategori tersebut tidak harus dirawat di RS karena perawatannya tidak memerlukan ventilator dan sebagainya," pungkasnya.

Pria Asal Garut Ini Klaim Ciptakan Obat Herbal untuk Corona:

(mul/mpr)