ADVERTISEMENT

Jaga Perekonomian, 4 UMKM Mitra Grab Tetap Jualan di Tengah COVID-19

Abu Ubaidillah - detikNews
Kamis, 09 Apr 2020 18:18 WIB
Merchant GrabFood
Foto: Dok. Grab Indonesia
Jakarta -

Lembaga pemeringkat Moody's memprediksi perekonomian nasional melambat hingga 3 persen di tahun 2020 sebelum naik lagi di tahun berikutnya akibat wabah COVID-19. Kebijakan pembatasan sosial oleh pemerintah telah mengubah pola usaha dan perilaku pelanggan. Contohnya pelanggan tak lagi dapat menikmati hidangan di tempat, beberapa usaha kuliner membatasi jumlah pengunjung dan mengurangi jam operasional.

Pelaku usaha, khususnya UMKM memiliki peran penting untuk menjaga roda perekonomian nasional agar dapat berjalan dengan mengandalkan teknologi. Untuk tetap menjangkau pelanggan UMKM di Bandung, Surabaya, Makassar, dan Medan memanfaatkan layanan GrabFood dari Grab.

Manager Pemasaran Wingz O Wingz, Muhammad Muhlis yang menjual kreasi daging ayam di Bandung bercerita, ia dan usahanya tengah berjuang bertahan di situasi pandemi COVID-19. Menurutnya, dampak yang paling terasa adalah transaksi makan di tempat yang hanya tinggal 5 persen saja.

"Sesuai imbauan pemerintah kami juga membatasi kunjungan pelanggan untuk makan di tempat dengan mengutamakan layanan take away atau order memakai aplikasi," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (9/4/2020).

Biasanya, omzet utama Wingz O Wingz yang telah beroperasi sejak 2011 ini berasal dari pelanggan yang makan di tempat dan pemesanan online. Sekarang, mereka hanya mengandalkan penjualan online sebagai sumber pemasukan utama untuk menjadi sumber penghidupan bagi 250 karyawannya. Muhlis menyebut, dalam situasi saat semua orang diam di rumah saja, aplikasi Grab membantu bisnis untuk bertahan. Pelanggan tetap bisa memesan produk Wingz O Wingz lewat GrabFood.

"Saat ini paling saya syukuri sih bahwa usaha yang saya kembangkan ini sekarang tidak hanya tetap menghidupi ratusan karyawan tapi juga membantu para pengemudi ojek online di tengah situasi sulit ini," lanjut Muhlis.

Beda cerita dengan mitra GrabFood asal Surabaya. Pemilik Ayam Bakar Primarasa, Edwin Sugiaurto menceritakan restoran legendaris yang ia kelola telah dirintis sejak 1993 tetap beroperasi seperti biasa agar karyawan tetap memperoleh gaji bulanan utuh.

"Dengan meningkatkan standar kebersihan dan melakukan prosedur pengecekan kesehatan. Total kami punya sekitar 100 karyawan yang tersebar di tujuh cabang," papar Edwin.

Menurut Edwin, Ayam Bakar Primarasa tengah mengalami situasi unik karena sejak 27 tahun silam pendapatan utama berasal dari pelanggan yang makan di tempat namun saat ini 50% transaksi datang secara online.

Beda lagi kisah dari pemilik MasterCheese, Yulianti, mitra GrabFood di Makassar yang harus mengubah jam operasionalnya menjadi lebih singkat. Untungnya, meski jumlah pengunjung yang makan di tempat semakin sedikit, jumlah pesanan online pada usaha yang dirintis sejak 2018 ini terus meningkat.

"Memang lewat pesanan online, terutama Grab itu tetap banyak. Dulu saja sebelum Corona, 50 persen pesanannya dari Grab, sekarang pesanan online dari Grab naik sampai 80 persen. Bersyukur karena ada teknologi yang membuat kami mampu bertahan di situasi sulit ini," ceritanya.

Sementara itu, pengelola UMKM kuliner Martabak Mekar di Medan, Erwin Susanto menceritakan bahwa pandemi COVID-19 mulai terasa di Tanah Deli, namun usahanya yang berlokasi di pusat kota belum sepi pembeli terutama karena banyak yang memesan lewat aplikasi GrabFood.

"Sebenarnya tidak banyak pengaruh. Saya masih buka seperti biasa, meski saya sudah ada rencana untuk tutup satu jam lebih cepat. Jumlah pesanan sendiri masih seperti biasa, belum terpengaruh pandemi. Apalagi pesanan memang lebih banyak dari online," ujarnya.

Menurutnya, jauh sebelum pandemi virus Corona merebak, Grab telah membantu menjangkau lebih banyak pembeli sehingga mereka tak perlu datang ke lokasi untuk menikmati menu-menu martabak dari Martabak Mekar.

Itulah kisah 4 pelaku UMKM yang kini tengah berjuang mempertahankan bisnisnya di tengah pandemi COVID-19. Selain mengatur strategi bisnis untuk tetap dapat melayani pelanggan, keempat pelaku usaha ini juga mengimplementasikan standar kebersihan sesuai standar keamanan terpadu untuk layanan pesan-antar makanan yang diterapkan GrabFood.

Mereka mendapat materi edukasi yang relevan seperti langkah menjaga kebersihan dan standar keamanan dengan mudah dengan mengakses aplikasi merchant GrabFood. Mereka juga mewajibkan pemakaian masker, sarung tangan, dan pengecekan suhu tubuh untuk seluruh karyawan.

Managing Grab Director Grab Indonesia, Neneng Goenadi menjelaskan Grab sebagai perusahaan aplikasi juga memiliki berbagai inisiatif untuk mendukung upaya mitra merchant melawan pandemi COVID-19 di berbagai kota dengan menerapkan standar keamanan terpadu untuk layanan pesan antar makanan.

"Standar yang dimaksud antara lain menghadirkan opsi pengantaran tanpa kontak sebagai langkah perlindungan bagi pelanggan sekaligus mitra, menyertakan Kartu Keterangan Pengiriman GrabFood yang berisi catatan tanggal, waktu, nama dan suhu tubuh karyawan yang menyiapkan makanan pada setiap kemasan makanan yang dipesan dan pemeriksaan suhu tubuh pelanggan, karyawan serta mitra pengantaran secara rutin," ujarnya.

Sebagai upaya memerangi pandemi COVID-19, Grab menginisiasi gerakan #KitaVSCorona. Melalui gerakan tersebut, Grab membagikan ribuan masker, hand sanitizer, dan menyemprotkan disinfektan pada kendaraan mitra pengemudi GrabBike, GrabCar, serta seluruh mitra pengantaran GrabFood dan GrabExpress.

Untuk mitra merchant, Grab menyediakan berbagai langkah bantuan untuk merchant GrabFood seperti mendanai secara langsung dan bermitra dengan pihak ketiga terkait program pemasaran GrabFood. Selain itu, Grab juga menyediakan edukasi tentang gaya hidup sehat dan pencegahan penyebaran COVID-19 serta layanan pemeriksaan awal COVID-19 secara online via GrabHealth.

(prf/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT