Malam Nisfu Sya'ban dan Beda Pendapat Ulama soal Keutamaannya

Erwin Dariyanto - detikNews
Rabu, 08 Apr 2020 16:01 WIB
Hadits Pendek: Ciri Orang Munafik
Beda pendapat soal keutamaan malam Nisfu Sya'ban (Foto: Zaki Alfaraby/detikcom)
Jakarta - Para ulama sudah sepakat soal keutamaan bulan Sya'ban. Namun terkait malam Nisfu Sya'ban atau pertengahan bulan Sya'ban ada perbedaan pendapat tentang keutamaan dan amalan-amalan yang bisa dikerjakan.

Tentang keutamaan bulan Syaban, dicantumkan dalam sejumlah hadits shahih. Aisyah RA seperti diriwayatkan dalam hadits Abu Daud menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah terlihat melakukan puasa sunah sebanyak di bulan Sya'ban.

عَنْ عَائِشَةَ، زَوْجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

Artinya: Seperti dinarasikan Aisyah, "Rasulullah SAW sempat puasa beberapa hari hingga kami berpikir dia akan terus melakukannya. Kemudian, Rasulullah SAW tidak puasa selama beberapa hari dan kami mengira dia tidak akan puasa lagi. Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW menyelesaikan puasa hingga satu bulan kecuali saat Ramadhan, dan aku tidak pernah melihatnya berpuasa sebanyak di bulan Sya'ban." (Hadits Riwayat Abu Daud).

Dalam riwayat lain Aisyah mengisahkan :

" Tidak beliau ( Nabi Shalallahu alaihi wa sallam ) pernah berpuasa seperti pada bulan Sya'ban, Beliau hampir berpuasa penuh ( sebulan) kecuali menyisakan sedikit." Ustaz Das'ad Latif menyebut status hadits ini Muttafaq Alaih.

Terkait malam Nisfu Sya'ban, Ustaz Das'ad Latif mengatakan masih terjadi perdebatan di antara para ulama. Ada yang berpandangan bahwa malam Nisfu Sya'ban memiliki sejumlah keutamaan. Ada sebuah hadits yang statusnya dihasankan oleh Syekh Al Albani:

عن أبي موسى رضي الله عنه، قال النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم :

"إن الله تعالى ليطلع في ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك، أو مشاحن".

رواه ابن ماجه في إقامة الصلاة باب ما جاء في ليلة النصف من شعبان (1380) ، وحسنه الألباني في صحيح الجامع (1819) .

Dari sahabat Abu Musa Radhiyallahu 'Anhu, telah bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam:

"Sesungguhnya Allah Ta'ala melihat pada malam Nishfu Sya'ban lalu mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang ada kebencian". (Hadits Riwayat Ibnu Majah ).

"Kemungkinan berdasarkan dalil ini dan sebagian Tabi'en menghidupkan malam ini (malam Nisfu Sya'ban) dengan banyak beribadah," kata Ustaz Das'ad Latif saat berbincang dengan detikcom, Rabu (8/4/2020).

Bagi yang mendukung pendapat keutamaan malam Nisfu Sya'ban ini, kaifiat dan tata cara beribadahnya bisa berjamaah seperti pandangan Ibnu Taimiyah, ada juga yang sendiri-sendiri.

Ustaz Das'ad Latif mengatakan, ada juga sebagian ulama yang membenarkan adanya keutamaannya malam Nisfu Sya'ban. Namun tidak memandang sunah untuk kumpul-kumpul secara khusus di masjid atau tempat lain untuk tujuan itu. "Di antara yang berpendapat seperti ini adalah Imam Al Auzai," kata Ustaz asal Makassar, Sulawesi Selatan itu.

Ada juga sebagian ulama yang berpendapat tidak ada keutamaan khusus malam Nisfu Sya'ban. Sebab tidak ada hadits shahih yang menyebut keutamaannya. Tidak ada contoh dari Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam dan para sahabat tentang ibadah khusus di malam Nisfu Sya'ban.

Ustaz Das'ad Latif meminta umat Islam menghargai perbedaan pendapat ini. "Silakan bagi yang ingin menghidupkan malam itu, dengan catatan jangan dengan cara-cara yang tidak ada sunahnya. Bagi yang berpandangan itu tidak sunah dan muhdats, juga harus dihargai pendapatnya dan bisa menghargai pendapat yang berbeda," imbau Ustaz Das'ad Latif. (erd/nwy)