Keturunan Arab di Palembang:
Kami Digusur Demi Jepang
Senin, 12 Des 2005 17:04 WIB
Palembang - "Dulu darah para leluhur kami untuk mengusir Jepang. Sekarang keluarganya digusur untuk mendatangkan Jepang."Demikian spanduk yang diusung sekitar 900 warga keturunan Arab di Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), saat bertemu dengan anggota Dewan Sumatra Selatan di ruang Komisi A, DPRD I Sumsel, Jalan POM IX, Palembang, Senin (12/12/2005). Ada apa dengan Jepang? Ternyata spanduk itu sebagai ekspresi kemarahan kepada pemerintah Sumsel yang telah mendatangkan investor dari Jepang guna membangun jembatan Musi III. Jembatan itu akan menggunakan lahan perkampungan Arab yakni 13 Ulu di Seberang Ulu dan Kuto Batu di Seberang Ilir. Investor Jepang itu adalah Japan Bank International Cooperation (JBIC) yang akan mengucurkan dana jutaan dollar itu. “Mereka itu tanpa pernah berdialog dengan kami. Mereka tanpa assalamualaikum. Tiba-tiba bae (saja) memasang patok di tanah kami,” kata Nurhudah Assegaf, warga 13 Ulu, Namun, meskipun mereka minta izin, kata Nurhudah, keturunan Arab tetap menolak penggusuran pemukiman mereka itu. “Kami ini sudah 300 tahun berada di sana. Saat kolonialisasi Belanda, perkampungan kami tetap dijaga. Bahkan, saat Soeharto berkuasa kampung kami tetap dipertahankan sebagai situs sejarah. Kini, di era reformasi kami justru mau digusur demi investor Jepang itu,” kata Nurhudah. Zuchdi dari keturunan Arab yang tinggal di Kuto Batu juga menyampaikan hal senada dengan Nurhudah. “Kami ini sudah hidup miskin. Mau makan bae susah. Kalau kami digusur, kami mau tinggal di mana? Dan juga nenek moyang kami akan menangis melihat penggusuran ini. Kampung kami adalah salah satu kampung penyebaran dan pendalaman Islam di Palembang,” katanya. Aksi ratusan warga itu tidak mendapatkan suatu kepastian. “Kami akan menyampaikan aspirasi ini ke pemerintah. Sebenarnya soal rencana pembangunan Musi III juga belum masuk ke kami,” kata Maizano, Ketua Komisi A DPRD I Sumsel.Kampung 13 Ulu dan Kuto Batu merupakan perkampungan etnis Arab yang ada sejak 300 tahun lalu. Di dua kampung itu terdapat sejumlah peninggalan sejarah perjalanan masyarakat Arab di Sumsel dan ajaran agama Islam. Peninggalan sejarah itu terlihat dari bangunan rumah dan langgar yang masih bertahan hingga saat ini. Diperkirakan warga keturunan Arab yang masih bertahan di dua kampung itu sebanyak 8.000 jiwa. Mantan Menteri Agama Said Agil Al-Munawar merupakan warga keturunan Arab yang dilahirkan di kampung 13 Ulu.
(iy/)











































