Rokok Gerbang Maksiat, Pajak Tembakau Perlu Dinaikkan Berkala
Senin, 12 Des 2005 14:43 WIB
Jakarta - Masalah kesehatan masih ditangani setengah hati. Contohnya rokok yang dianggap sebagai gerbang kemaksiatan. Untuk menekan tingkat konsumsinya, pajak tembakau perlu dinaikkan secara berkala."Rokok itu pintu gerbang kemaksiatan, karena menyebabkan kemiskinan, pembodohan, dan ketidaksehatan masyarakat," cetus Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Farid Anfasa Moeloek dalam jumpa pers di Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (12/12/2005).Menurut Farid, 12 persen dari total pendapatan penduduk Indonesia, ternyata habis untuk dibakar. Padahal nominal uang yang habis untuk konsumsi rokok itu bisa digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.Mantan Menkes ini juga mengatakan, 60 persen konsumsi terbanyak rokok adalah generasi muda usia 15-19 tahun. "Jadi generasi muda mau dibawa kemana. Mereka kan usia produktif. Kita tidak menghendaki negara dengan parameter ekonomi baik, tapi parameter sosial, termasuk pendidikan dan kesehatan masyarakatnya buruk," tegas Farid.Untuk itu dia mengharapkan isu kesehatan bisa masuk dalam isu politik. Sebab selama ini pemerintah terlihat setengah hati dalam menangani masalah kesehatan.Sementara Ketua Tim Penanggulangan Tembakau di Indonesia Anhari Achadi menuturkan, konsumsi tembakau di Indonesia tergolong tinggi. Hal itu disebabkan masih rendahnya komponen pajak. Padahal komponen pajaklah yang bisa meningkatkan harga, sehingga konsumsi dapat ditekan."Salah satu cara untuk menjaga agar harga tetap tinggi adalah melalui kenaikan pajak secara berkala," Anhari yang juga staf ahli menteri kesehatan tersebut.Dikatakannya, dibandingkan negara lain, persentase pajak di Indonesia dari harga jual akhir jauh lebih rendah. Misalnya Singapura, pajak tembakau mencapai 51 persen dari harga jual. Cina, yang merupakan penghasil tembakau terbesar, pajaknya 51 persen dari harga jual. Sedangkan di Indonesia hanya 31 persen.Diharapkan pajak tembakau di Indonesia secara berkala dapat menyamai pajak serupa di negara ASEAN lainnya seperti Singapura.
(san/)











































