Round-Up

Penolakan Jenazah Corona Berlanjut, MUI-Ahli Imbau Warga Tak Takut

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 05 Apr 2020 06:41 WIB
Tim medis menurunkan pasien positif terjangkit COVID-19 dari pesawat Hercules C-130 untuk dimasukkan kedalam mobil ambulas, saat simulasi pemindahan pasien COVID-19 di Bandara Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau, Kamis (26/3/2020). Simulasi tersebut untuk melihat kesiapan personel medis dalam menangani proses pemindahan pasien khusus Corona (COVID-19) dari  pesawat untuk dibawa ke RS Khusus Corona di Pulau Galang, Batam. ANTARA FOTO/M N Kanwa/ama.
Ilustrasi (Foto: ANTARA FOTO/M N Kanwa)
Jakarta -

Fenomena penolakan warga terhadap pemakaman jenazah pasien virus Corona (COVID-19) yang terjadi di sejumlah daerah terus berlanjut. Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan ahli kesehatan meminta warga tak perlu takut karena dalam pengurusan jenazah pasien Corona telah memiliki protokol agar tidak terjadi penularan.

MUI menilai kewaspadaan dan kekhawatiran atas penularan virus Corona (COVID-19) memang penting. Namun kekhawatiran itu harus disertai dengan pemahaman secara utuh, terutama dalam pengurusan jenazah pasien Corona.

"Jangan sampai akibat kekhawatiran kita, minus pengetahuan yang memadai kemudian kita berdosa karena tidak menunaikan kewajiban atas hak jenazah dengan melakukan penolakan pemakaman. Ini berarti dosa dua kali. Dosa pertama tidak menunaikan kewajiban atas jenazah dan kemudian menghalang-halangi pelaksanaan penunaian terhadap kewajiban terhadap jenazah,' ujar Niam dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta Pusat yang disiarkan lewat channel YouTube BNPB Indonesia, Sabtu (4/4/2020).

Dia menuturkan dalam mengurus jenazah pasien Corona ada hak-hak yang harus dipenuhi mulai dari memandikan, mengkafani, mensalatkan, hingga penguburan sebagaimana ketentuan agama. Akan tetapi, kata dia, protokol-protokol kesehatan perlu juga diperhatikan.

"Mulai dari memandikan, proses memandikan tidak harus dilepas baju. Proses memandikan jika mungkin dilakukan, dilakukan proses pengucuran air keseluruhan tubuh. Tapi juga (jika) tidak memungkinkan, agama memberikan kelonggaran dengan cara ditayamumkan," katanya.

Lebih jauh, dia mengatakan jika tidak memungkinkan juga untuk ditayamumkan dengan mempertimbangkan keamanan kesehatan bagi yang mengurus jenazah tersebut bisa langsung dikafani.

Menurutnya, dalam mengkafani ada ketentuan perlu menutup seluruh tubuh jenazah. Tetapi pada saat yang sama bisa dilakukan proteksi dengan plastik yang tak tembus air bahkan dalam batas tertentu kemudian dimasukkan ke dalam peti.

"Setelah itu proses pensalatan. Dipastikan tempat yang dilaksanakan untuk kepentingan salat itu suci dan juga aman dari proses penularan. Dilaksanakan oleh minimal satu orang Muslim," katanya.

Selanjutnya
Halaman
1 2