Jokowi Bicara Masalah Utama Pendidikan: Membolos hingga Mengulang

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 03 Apr 2020 11:09 WIB
Presiden Jokowi memimpin rapat terbatas soal antisipasi mudik Lebaran 2020
Presiden Jokowi (Muchlis Jr/Biro Pers Setpres)
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) berbicara mengenai tiga masalah utama yang dihadapi Indonesia sesuai hasil survei Program Penilaian Pelajar Internasional atau Programme for International Student Assessment (PISA). Jokowi meminta ketiga masalah tersebut diselesaikan sehingga peringkat Indonesia di PISA meningkat.

Pernyataan itu disampaikan Jokowi saat menyampaikan arahan dalam rapat terbatas tentang strategi peningkatan peringkat Indonesia dalam PISA seperti disiarkan di akun YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (3/4/2020). Jokowi mulanya berbicara mengenai pembatalan ujian nasional 2020.

"Saya lihat ini juga menjadi sebuah momentum untuk merumuskan ulang sistem evaluasi standar dasar pendidikan dan menengah secara nasional, apakah dalam pengendalian mutu pendidikan secara nasional hanya menggunakan UN atau juga bisa menggunakan standar yang dipakai secara internasional seperti PISA," kata Jokowi.

Jokowi mengatakan Indonesia telah mengikuti survei PISA sejak 2000. Berdasarkan hasil survei tersebut, kata Jokowi, sistem pendidikan Indonesia berubah menjadi lebih inklusif dan terbuka.

"Namun laporan yang saya terima, skor rata-rata PISA tahun 2018 menurun di 3 bidang kompetensi dengan penurunan terbesar di bidang membaca. Kemampuan membaca siswa Indonesia dengan skor 371 berada di posisi 74, kemampuan matematika skornya 379 di posisi 73, dan kemampuan sains dengan skor 396 berada di posisi 71," ujar dia.

Barulah kemudian Jokowi membeberkan tiga permasalahan utama berdasarkan hasil survei PISA. Pertama, jumlah siswa berprestasi rendah di Indonesia cukup tinggi.

"Besarnya persentase siswa berprestasi rendah meskipun kita tahu Indonesia berhasil meningkatkan akses anak usia 15 tahun terhadap sistem sekolah. Masih diperlukan upaya lebih besar agar target siswa berprestasi juga ditekan hingga berada di kisaran 15-20 persen pada 2030," ujar dia.

Selanjutnya
Halaman
1 2