Daftar Studi Ini Teliti Risiko Rokok Tembakau Dibandingkan Vape

Inkana Putri - detikNews
Rabu, 01 Apr 2020 13:05 WIB
vape
Foto: shutterstock
Jakarta -

Beberapa tahun belakangan, vape hadir sebagai rokok elektrik yang banyak digandrungi, terlebih oleh kaum muda. Bahkan, banyak para perokok tembakau yang sekarang mulai beralih ke vape karena menganggap lebih aman dibanding rokok tembakau.

Berdasarkan kebijakan dan penelitian di Inggris, bagi para perokok yang ingin berhenti namun menghadapi kesulitan, bisa mencoba alternatif dengan vaping. Meski demikian penggunaan vape bukan berarti tidak memiliki risiko. Hanya saja risiko dari penggunaan vape lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.

Sebuah studi kontroversial terkait vaping dengan penyakit kardiovaskular telah ditarik oleh penelitinya. Studi ini awalnya menjelaskan bahwa orang yang menggunakan vape (vapers) memiliki risiko sakit jantung yang sama dengan perokok. Namun, jurnal tersebut ditarik kembali karena tidak mempertimbangkan bahwa hampir semua pengguna vape (vapers) adalah perokok aktif atau mantan pengguna rokok.

Hal ini membuat pentingnya pemahaman terhadap efek dari rokok elektronik pada kesehatan jantung kini telah bermunculan. Dengan beralih ke rokok elektrik, perokok konvensional dapat mengurangi risiko terserang penyakit jantung.

Rendahnya risiko vape dibandingkan dengan rokok konvensional juga dibahas dalam berbagai jurnal penelitian. Pada tahun 2018, US National Academies of Sciences, Engineering and Medicine (NASEM) menemukan bahwa rokok elektrik 'lebih rendah risiko' dari rokok konvensional. Namun, hanya satu dari tiga orang di Inggris yang mengetahui bahwa risiko dari vaping lebih rendah dibandingkan merokok.

Selain itu, Public Health England 2015 juga melaporkan bahwa, meskipun vaping tidak 100% aman,sebagian besar bahan-bahan kimia penyebab penyakit yang terkandung pada rokok konvensional tidak terdapat di vape. Meskipun begitu, beberapa penelitian juga menjelaskan tentang bahaya rokok elektrik.

Pada bulan lalu, PHE ditugaskan untuk laporan akhir terkait perkembangan rokok elektronik. Gabungan tim penulis PHE bersama pakar internasional memulai pekerjaannya dengan cakupan yang luas termasuk dari segi keamanan, sehingga dapat melakukan penilaian secara otoritatif pada tahun 2022.

Dari hasil tersebut didapat beberapa fakta mengenai bahaya nikotin. Adapun empat dari sepuluh perokok dan mantan perokok salah mengira bahwa efek dari nikotin merupakan penyebab besar kanker pada perokok. Namun, bukti menunjukkan bahwa nikotin sebenarnya memberikan risiko yang minimal pada kesehatan. Walaupun nikotin menjadi alasan orang-orang menjadi pecandu rokok, terdapat bahan-bahan kimia lainnya pada asap rokok yang juga membahayakan.

Selain memiliki risiko lebih rendah, vape juga sering kali digunakan para perokok aktif untuk berhenti merokok. Hal ini dijelaskan di sebuah uji coba klinis yang dibiayai oleh National Institute for Health Research UK (NIHR) terbit pada bulan April tahun 2019.

Melibatkan hampir 900 partisipan, uji klinis ini menunjukkan bahwa pada layanan lokal berhenti merokok (Local Stop Smoking Services), standar rokok elektronik dua kali lebih efektif untuk membantu perokok berhenti merokok dibandingkan dengan pilihan kombinasi perokok pada terapi pengganti nikotin (NRT). Tak hanya itu, sebuah studi dari University College London (UCL) juga menunjukkan bahwa rokok elektronik membantu lebih dari 50.000 perokok di Inggris untuk berhenti merokok setiap tahunnya.

Seperti yang diketahui, selain perokok aktif, para perokok pasif juga harus menghadapi bahaya rokok. Hal inilah yang menjadi alasan Inggris membuat peraturan untuk tidak merokok di ruang publik dan di tempat kerja.

Namun, vaping tidak termasuk dalam peraturan ini dan organisasi maupun instansi dapat membuat kebijakan sendiri terkait vaping di lingkungan kerja. Hal ini dikarenakan rokok elektronik berbeda dengan rokok konvensional. Rokok elektrik terbuat dari cairan rokok elektrik biasanya terdiri dari nikotin, propilen glikol dan atau gliserin serta perisa sehingga tidak ada uap yang dihasilkan ke udara, melainkan dari aerosol yang dihembuskan keluar.

Rendahnya risiko bahaya rokok elektrik terhadap perokok pasif dijelaskan dalam sebuah laporan pada tahun 2018 yang menemukan bahwa tidak ada risiko kesehatan yang teridentifikasi dari orang-orang yang ada di sekeliling vaper. Laporan tersebut akan diperbarui lagi pada tahun 2022.

Namun, untuk para pengidap asma dan masalah pernafasan lainnya yang sangat peka terhadap hal-hal yang mengganggu di lingkungan, PHE menyarankan agar mempertimbangkan hal tersebut dan membuat kebijakan yang sesuai.

(mul/ega)