Jelaskan Sidik Jari
Kapolri Telepon Hasyim Muzadi
Minggu, 11 Des 2005 17:03 WIB
Surabaya - Kontroversi permintaan sidik jari di pesantren membuat resah pihak kepolisian. Agar tidak terjadi kesalahpahaman, Kapolri Jenderal Sutanto memberikan penjelasan kepada Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi. "Tadi Pak Tanto (Kapolri) menelepon. Beliau menyatakan tidak ada pengambilan sidik jari di pesantren-pesantren dan memang tidak ada intruksi seperti itu," ungkap KH Hasyim Muzadi saat ditemui wartawan di PWNU Jatim, Jl Raya Darmo, Surabaya, Minggu (11/12/2005). Menurut Hasyim, keterangan yang didapat dari Kapolri bahwa tidak pernah ada sekali pun polisi yang mendata dan mengambil sidik jari di salah satu pesantren di Cimahi seperti yang diributkan selama ini. "Cerita Pak Tanto, kejadian di Cimahi itu memang ada permintaan seperti itu kepada Kapolres. Tapi oleh Kapolres tidak direspons," jelasnya. Hasyim mengakui, pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla terkait sidik jari tersebut mengundang kontroversi dan sangat tidak produktif di masyarakat khususnya di kalangan pesantren. "Dengan adanya penolakan dari pesantren, teroris sungguhan malah diuntungkan. Mereka merasa terlindungi. Sedangkan bagi kepolisian, citra jadi buruk," kata Hasyim. Dan lebih parahnya, isu sidik jari juga telah menjadi perhatian besar dunia internasional. "Saya juga ditanyai tentang kebenaran isu itu oleh salah satu negara. Jadi memang luar biasa gemanya," tegas Hasyim yang sejak awal menolak adanya kebijakan pengambilan sidik jari di pesantren itu.
(nrl/)











































