Penderita Gizi Buruk di Sumut Melonjak 4 Kali Lipat
Jumat, 09 Des 2005 15:52 WIB
Medan -
Ini berita buruk! Ternyata bayi penderita gizi buruk di Sumatera Utara (Sumut) meningkat lebih dari 400 persen pada tahun 2005. Pada tahun 2004 persentase balita gizi buruk hanya 2,1 persen dari keseluruhan balita, namun pada tahun 2005 meningkat tajam menjadi 8,7 persen. Wah!Lonjakan penderita gizi buruk itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Sumut Fatni Sulani kepada wartawan di Kantor Badan Informasi dan Komunikasi Sumut, Jalan Mohammad Said Medan, Jumat (9/12/2005). Menurut Fatni, sebelum tahun 2005, penderita gizi buruk semakin menurun. Pada tahun 2002 terdapat 4,6 persen balita penderita gizi buruk, tahun 2003 turun menjadi 3,4 persen dan pada tahun 2004 turun lagi menjadi 2,1 persen. "Namun, pada tahun 2005 naik menjadi 8,7 persen," ujar Fatni Sulani.Dinkes Sumut terus melakukan upaya untuk menekan perkembangan penderita gizi buruk. Di antaranya dengan memberikan makanan tambahan kepada balita. Tapi diingatkan pemberian makanan ini hanyalah bersifat sementara. "Ketika balita kita beri makanan tambahan, kesehatan mereka meningkat. Namun ketika makanan tambahan ini dihentikan, kesehatan itu turun lagi. Hal ini akibat kemampuan masyarakat yang kurang untuk memenuhi makanan bergizi kepada balita," kata Fatni.Ia menjelaskan, ada beberapa upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Sumut saat ini. Untuk jangka pendek, dilakukan pelacakan kasus gizi buruk di kabupaten dan kota. Jika ditemukan kasus gizi buruk akan segera dirujuk ke rumah sakit umum kelas III dengan biaya gratis bagi masyarakat miskin. "Selain itu juga dilakukan dengan peningkatan kualitas SDM serta pelatihan bagi petugas," kata Fatni.Untuk jangka menengah dilakukan revitalisasi pos pelayanan terpadu (Posyandu), meningkatkan kembali tim pangan dan gizi, serta mengintensifkan peran Puskesmas dalam upaya preventif dan promotif. "Sedangkan program jangka panjang yakni dengan memberdayakan keluarga dalam penanggulangan kemiskinan. Sebab, inti dari persoalan gizi buruk sebenarnya adalah kemiskinan," kata Fatni.Dalam kesempatan ini, Fatni menyatakan bahwa dari segi jumlah, tenaga kesehatan baik untuk dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi, bidan, serta tenaga perawat sebenarnya sudah tergolong cukup di Sumatera Utara. Hanya saja, penyebarannya tidak merata sehingga masih ada daerah yang kekurangan tenaga kesehatan tersebut.Dijelaskannya, jumlah dokter spesialis di Sumatera Utara saat ini sebanyak 414 orang, dokter umum 1.207 orang, dokter gigi 532 orang, paramedis 5.971 orang, bidan 6.264 orang, dan tenaga kesehatan non medis 5.439 orang. Dari jumlah tersebut, maka rationya, dokter spesialis 3 orang per 100 ribu penduduk (standar nasional Indonesia Sehat 2010 sebanyak 6 orang per 100 ribu penduduk).Kemudian dokter umum 9 orang per 100 ribu penduduk (standar nasional 40 per 100 ribu penduduk, dokter gigi 4 orang per 100 ribu penduduk (standar nasional 11 orang per 100 ribu penduduk), perawat 51 orang per 100 ribu penduduk (standar nasional 117 per 100 ribu penduduk), dan bidan 51 per 100 ribu penduduk (standar nasional 100 per 100 ribu penduduk).
(iy/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































