MPR Ingatkan Pemerintah Cari Solusi Jelang 'Nyadran' di Tengah Corona

Mega Putra Ratya - detikNews
Jumat, 27 Mar 2020 19:18 WIB
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat
Foto: Dok MPR
Jakarta -

Pemerintah pusat dan daerah perlu memikirkan jalan keluar terkait pelaksanaan tradisi Nyadran menjelang Ramadan 2020 di tengah wabah Covid-19 di Indonesia.

"Tradisi Nusantara Nyadran memiliki nilai adiluhung. Nyadran juga wujud relasi antara manusia, leluhur, alam, dan Tuhan. Untuk itu perlu antisipasi dengan koordinasi baik antar pemerintah pusat dan daerah di tengah wabah Covid 19 ini karena akan ada mobilitas tinggi dari perkotaan ke pedesaan," ujar Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Jumat (27/3/2020).

Lestari yang biasa disapa Mbak Rerie ini menegaskan, sejak 16 Maret 2020 lalu, pemerintah mengimbau masyarakat Indonesia untuk melakukan kegiatan di dalam rumah dan hindari kegiatan di luar rumah. Presiden Jokowi telah mengimbau agar kegiatan seperti belajar, bekerja dan beribadah baiknya dilakukan di rumah.

Tetapi, Ramadan 2020 menjelang dalam hitungan hari, diperkirakan akan jatuh pada 24 April 2020. Masyarakat Indonesia memiliki tradisi Nyadran, yang merupakan rangkaian budaya berupa pembersihan makam leluhur, tabur bunga, dan puncaknya berupa kenduri selamatan di makam leluhur, biasanya dilakukan sejak sebulan hingga satu hari menjelang Ramadan.

Mengantisipasi potensi penyebaran Covid 19, menurut Mbak Rerie kegiatan Nyadran ini patut menjadi perhatian semua pihak baik pemerintah pusat dan daerah. Karena Nyadran akan melibatkan keramaian yang tentunya berpotensi meningkatkan penyebaran virus Corona.

"Upaya keras harus kita lakukan bersama mencegah penyebaran Covid 19 dari kawasan perkotaan yang menjadi zona merah ke pelosok perdesaan," ujar Mbak Rerie yang juga legislator Partai NasDem dari Dapil Jawa Tengah 2 (Jepara-Kudus-Demak).

Tanpa mengabaikan tradisi kultural, menurut Mbak Rerie, perlu dipikirkan cara-cara melestarikan tradisi Nyadran. Salah satu jalan keluar, dengan lebih melibatkan kerabat dan tenaga lokal.

Sebagai misal untuk merawat makam-libatkan warga lokal sekaligus memberi kemanfaatan ekonomi bagi kerabat di kampung halaman. Dengan demikian, akan meminimalisir risiko penyebaran lewat pergerakan masyarakat dari episentrum wabah Covid 19 ke pelosok pedesaan.

Apalagi, jelas Mbak Rerie, situasi Indonesia bahkan dunia saat ini berada dalam kondisi gawat darurat, sehingga membutuhkan perhatian dan kerja sama semua pihak pemerintah dan rakyatnya.

Data per 26 Maret 2020 jumlah yang terinfeksi virus Corona di dunia adalah 462.922 orang di 171 negara, dengan total kematian sekitar 20.922 orang.

Di Indonesia tercatat ada 893 orang terinfeksi Corona dengan jumlah yang meninggal 78 orang. Khusus penderita yang terinveksi Corona di Jawa Tengah tercatat 40 orang dan meninggal 6 orang.

"Karena itu, antisipasi dan solusi menjelang masa Nyadran ini harus segera dipikirkan, dan dilakukan sosialisasinya," ujarnya.

Bahkan, tambah Mbak Rerie, sejarah mencatat Kabah dan musim haji pernah ditutup sebanyak 40 kali. Sebagian besar alasan penutupannya adalah merebaknya wabah penyakit yang membahayakan. Belajar dari peristiwa itu, menurut Mbak Rerie, semestinya masyarakat dapat menerima pembatasan-pembatasan yang akan dilakukan sehubungan dengan tradisi menjelang Ramadan itu.

Apalagi, jelasnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana Indonesia (BNPB) memperpanjang status keadaan darurat bencana wabah akibat virus corona dari 29 Februari sampai dengan 29 Mei 2020.

"Karena faktanya para ahli memperkirakan puncak penyebaran Covid-19 di Indonesia akan terjadi pada akhir April 2020. Dan tren peningkatan infeksi Covid-19 dalam pekan ini jelas terlihat," tambah Mbak Rerie.

Jumlah kasus positif virus corona COVID-19 kembali bertambah. Hingga Jumat (27/3/2020) tercatat 1.046 kasus positif, 46 sembuh, dan 87 meninggal.

"Tentu penyampaian semua fakta-fakta tersebut harus diawali dengan sosialisai yang baik sehingga bisa mendapatkan solusi yang kreatif," pungkasnya.

(ega/mpr)