Perdebatan Susu
Bahaya Susu Hanya Bikin Bokek
Jumat, 09 Des 2005 14:30 WIB
Jakarta - Berbahayakah mengonsumsi susu? Adakah zat kimia di dalamnya? Adakah kaitannya konsumsi susu dengan autis dan obesitas? Pakar kesehatan gizi dan veterenian menandaskan susu aman dikonsumsi. Pakar lainnya menyatakan, bahaya terlalu banyak minum susu hanya membuat anggaran pengeluaran tinggi.Dua pakar yang menyatakan susu aman dikonsumsi yakni Pakar Kesehatan Gizi dan Veterenian IPB Dr drh Denny Widaya Lukman dan ahli nutrisi lulusan Universitas Kyoto Jepang, drh Antimon Ilyas, PhD. Denny mengaku heran mengapa ada orang yang mengampanyekan bahaya susu. Padahal susu merupakan sumber protein yang paling lengkap yang sangat dibutuhkan manusia. Bahaya susu, menurut Denny, selama ini hanya sebatas dugaan dan belum ada pembuktiannya."Soal zat kimia jelas tak ada di dalam susu. Susu menyebabkan autis dan obesitas masih harus diteliti lebih lanjut. Belum ada penelitian yang membuktikan susu terkait autis dan obesitas. Penelitian yang ada justru membuktikan susu sangat penting bagi manusia," papar Denny.Sementara Ilyas berpendapat susu sama sekali tak berbahaya bagi kesehatan termasuk over mengonsumsinya sekali pun. Ilyas mencontohkan anaknya yang hanya mengonsumsi susu dan hanya menyantap nasi sekali seminggu. Hingga umur 9 tahun, anak Ilyas sekali meneguk susu menghabiskan 1,5 liter susu. "Anak itu hingga kini tidak terkena penyakit aneh-aneh. Bahayanya terlalu banyak mengonsumsi susu itu ya hanya bokek," kata Ilyas. Mengenai obesitas, menurut Ilyas, itu bukan disebabkan kelebihan konsumsi susu. Ilyas mengakui putra keduanya yang mengonsumsi susu memang gemuk. Namun anak sulungnya dengan tingkat konsumsi susu yang sama tinggi tidak menjadi gemuk. Kedua pakar itu juga menentang pendapat yang menyatakan orang Asia tidak cocok mengonsumsi susu karena 80% tidak memiliki enzim laktasi untuk mencerna susu. Baik Denny maupun Ilyas berpendapat enzim laktasi bisa dibentuk dengan pembiasaan. Orang yang tak biasa minum susu bisa saja mencret saat awal meminum susu. Tapi jika dilatih dalan satu minggu orang itu tidak akan mencret lagi. Denny mengakui ada orang yang alergi dan tak tahan dengan laktosa yang terkandung di dalam susu. Namun jumlahnya tidak mencapai hingga 80 persen. "Kalau generasi dulu bisa saja segitu jumlahnya. Tapi kalau generasi sekarang saya tak percaya sampai 80 persen. Lagi pula itu bisa dilatih. Bagi yang alergi dengan susu bisa mengonsumsi produk olahan susu seperti keju dan yogurt," kata Denny.
(iy/)











































