11 Pedoman Kaifiat Sholat bagi Tenaga Medis yang Tangani Pasien COVID-19 dari MUI

Rosmha Widiyani - detikNews
Kamis, 26 Mar 2020 20:47 WIB
gedung MUI
Foto: Grandyos Zafna/11 Pedoman Kaifiat Sholat bagi Tenaga Medis yang Tangani Pasien COVID-19 dari MUI
Jakarta -

Tenaga kesehatan atau nakes berada di baris terdepan yang menangani kasus infeksi virus corona atau COVID-19. Bagi yang muslim, tugas tersebut tak lantas menggugurkan kewajiban melaksanakan sholat fardhu sebanyak lima kali sehari.

Namun, ada kondisi khusus bagi dokter dan perawat yang sedang bertugas apalagi yang mengenakan Alat Pelindung Diri (APD). Hal ini tercantum dalam Fatwa MUI Nomor 17 tahun 2020 tentang Pedoman Kaifiat Salat Bagi Tenaga Kesehatan Yang Memakai Alat Pelindung Diri (APD) Saat Merawat Dan Menangani Pasien COVID-19.

"Dalam kondisi hadas dan tidak mungkin bersuci (wudlu atau tayamum) maka ia melaksanakan shalat boleh dalam kondisi tidak suci dan tidak perlu mengulangi (i'adah)," tulis satu dari 11 Fatwa MUI atau Majelis Ulama Indonesia yang diterima detikcom pada Kamis (26/3/2020) dari Sekretaris Komisi Fatwa MUI DR HM Asrorun Ni'am Sholeh, MA.

Berikut susunan lengkap Pedoman Kaifiat Salat Bagi Tenaga Kesehatan Yang Memakai APD terkait infeksi COVID-19,

1. Tenaga kesehatan muslim yang bertugas merawat pasien COVID-19 dengan memakai APD tetap wajib melaksanakan shalat fardhu dengan berbagai kondisinya

2. Dalam kondisi ketika jam kerjanya sudah selesai atau sebelum mulai kerja ia masih mendapati waktu shalat, maka wajib melaksanakan shalat fardlu sebagaimana mestinya

3. Dalam kondisi ia bertugas mulai sebelum masuk waktu zhuhur atau maghrib dan berakhir masih berada di waktu shalat ashar atau isya' maka ia boleh melaksanakan shalat dengan jama' ta'khir

4. Dalam kondisi ia bertugas mulai saat waktu dzhuhur atau maghrib dan diperkirakan tidak dapat melaksanakan shalat ashar atau isya maka dia boleh melaksanakan shalat dengan jama' taqdim

5. Dalam kondisi ketika jam kerjanya berada dalam rentang waktu dua shalat yang bisa dijamak (dzhuhur dan ashar serta maghrib dan isya'), maka ia boleh melaksanakan shalat dengan jama'

6. Dalam kondisi ketika jam kerjanya berada dalam rentang waktu shalat dan ia memiliki wudlu maka ia boleh melaksanakan shalat dalam waktu yang ditentukan meski dengan tetap memakai APD yang ada

7. Dalam kondisi sulit berwudlu, maka ia bertayamum kemudian melaksanakan shalat

8. Dalam kondisi hadas dan tidak mungkin bersuci (wudlu atau tayamum) maka ia melaksanakan shalat boleh dalam kondisi tidak suci dan tidak perlu mengulangi (i'adah).

9. Dalam kondisi APD yang dipakai terkena najis, dan tidak memungkinkan untuk dilepas atau disucikan maka ia melaksanakan shalat boleh dalam kondisi tidak suci dan mengulangi shalat (i'adah) usai bertugas

10. Penanggung jawab bidang kesehatan wajib mengatur shift bagi tenaga kesehatan muslim yang bertugas dengan mempertimbangkan waktu shalat agar dapat menjalankan kewajiban ibadah dan menjaga keselamatan diri.

11. Tenaga kesehatan menjadikan fatwa ini sebagai pedoman untuk melaksanakan shalat dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan diri.

(row/erd)