Spekulasi di Balik Islah Gus Ipul-Cak Imin

Spekulasi di Balik Islah Gus Ipul-Cak Imin

- detikNews
Jumat, 09 Des 2005 13:41 WIB
Jakarta - Bagai petir di siang bolong, Saifullah Yusuf atau sering dipanggil Gus Ipul bertemu dengan pimpinan PKB Muktamar Semarang pimpinan Muhaimin Iskandar untuk proses islah. Pertemuan ini mengagetkan hampir seluruh pengurus PKB Muktamar Surabaya, karena mereka tidak diberitahu rencana islah kedua kubu ini."Islah hanya bisa berlangsung jika mereka mengakui PKB Muktamar Surabaya. Hal ini sudah diputuskan kiai-kiai sepuh di Magelang beberapa waktu lalu. Apa yang dilakukan Saifullah itu sikap pribadi," kata Ketua Umum PKB Muktamar Surabaya Choirul Anam alias Cak Anam kepada detikcom melalui telepon, Jumat (8/12/2005).Pernyataan Anam ini sekaligus menegaskan sikap partainya tetap menolak islah. "Ini organisasi, dibangun dengan dasar-dasar yang jelas. Tidak bisa keputusan diambil secara pribadi," lanjutnya.Nah yang menarik, ada apa di balik islah "politik darah biru" PKB ini? Sebutan politik darah biru, adalah politisi PKB yang masih ada hubungan keluarga dengan para tokoh NU, kiai-kiai dari pesantren besar NU, terutama keturunan Wahid Hasyim. Dan seperti diketahui, baik Saifullah Yusuf maupun Muhaimin adalah keluarga dekat Gus Dur.Tanda-tanda kedua belah pihak akan berangkulan sudah mulai tampak sejak keduanya bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Minggu sore (4/12/2005). Dalam pertemuan tersebut, SBY meminta dua kubu PKB masuk kabinet. Karena terpecah menjadi dua kubu, tak ada cara lain kedua belah pihak diakomodasi.Dalam pertemuan tersebut, SBY juga meminta kedua belah pihak untuk rujuk. "SBY berpesan agar PKB rujuk. Karena dengan rujuk dan mendukung pemerintah, maka SBY akan mudah untuk masuk ke pesantren-pesantren," kata Cak Anam.Sumber detikcom lainnya menyebutkan, gara-gara perebutan kursi di kabinet inilah, Saifullah Yusuf jalan sendiri berangkulan dengan Muhaimin tanpa sepengetahuan pengurus PKB Muktamar Surabaya. Tak heran jika hampir semua pengurus PKB Cak Anam kaget dengan manuver Gus Ipul yang tiba-tiba merapat ke PKB Muktamar Semarang. Kesimpulannya, Gus Ipul tinggalkan Cak Anam."Kami semua nggak tahu manuver Ipul. Kami benar-benar sudah ditinggalkan. Tidak ada pembicaraan sama sekali dengan pengurus lain. Mungkin Cak Anam di-Matori-kan," ujar salah seorang pengurus PKB Muktamar Surabaya pedas.Menurutnya, langkah Ipul merapat ke PKB Muktamar Semarang membuat syok banyak pengurus. Apalagi, baru 10 hari lalu mereka mengadakan pertemuan di Magelang dan meneguhkan posisi untuk tetap memperjuangkan diri sebagai satu-satunya PKB yang sah, setelah upaya kasasi MA dikabulkan. "Kiai-kiai sepuh sudah sepakat seperti itu," katanya.Tak heran berbagai kecurigaan muncul, ada apa di balik islah ini. Ada yang menghembuskan, bahwa ini satu-satunya cara Ipul agar tetap bertahan di kabinet, maka harus mengikuti skenario yang dibawa kelompok PKB Muktamar Semarang. Salah seorang pengurus kubu Anam mengakui sebagai kemenangan skenario kubu Muhaimin, dengan mengorbankan diri harus menjadi partai yang mendukung pemerintah. "Saya dengar Yenni Gus Dur lobi SBY langsung soal ini, hanya beberapa hari sebelum reshuffle kabinet, " kata sebuah sumber.Lobi yang dilakukan Yenni, apalagi kalau bukan meminta agar orang-orangnya bisa masuk kabinet. Dan sebagai konsekuensi, jika PKB Muhaimin masuk kabinet, sikap beroposisi dengan pemerintah harus berubah menjadi mendukung. "Sudah ada menteri di kabinet, mosok mau beroposisi," katanya.Seberapa efektif islah yang dibawa Ipul ini akan mempersatukan PKB, sangat tergantung kiai-kiai yang selama ini mendukung PKB Muktamar Surabaya. Karena selama ini yang menentukan sikap justru pada kiai sepuh. Tak heran, jika Ipul harus lobi mati-matian ke para kiai, termasuk melobi Kiai Idris Marzuki, Ketua Dewan Syuro PKB Muktamar Surabaya yang dilakukan dua hari lalu. Hanya hasilnya, sampai saat ini belum diketahui pasti. (jon/)


Berita Terkait