Setelah Reshuffle, Pemerintah Makin Pro Neo Liberalisme
Jumat, 09 Des 2005 09:02 WIB
Jakarta - Pandangan minor kembali dilontarkan kepada pemerintahan SBY setelah pergantian menteri dilakukan. Reshuffle kabinet makin mempertegas pemerintahan sekarang ini berpaham ekonomi neo liberalisme yang pro IMF. "Ini sangat tampak pada masuknya Pak Boediono ke kabinet dan ditariknya Bu Sri ke Depkeu," kata pengamat ekonomi politik," Revrisond Baswir saat berbincang dengan detikcom, Jumat (8/12/2005).Kebijakan-kebijakan yang akan diambil akan tetap melaksanakan agenda ekonomi neo liberal yang dipesankan IMF, seperti anggaran ketat, liberalisasi kebijakan, liberalisasi keuangan dan privatisasi BUMN.Dia mengakui kondisi pasar makin membaik setelah reshuffle karena pergantian itu memang untuk mengikuti pasar. "Ya terang aja, untuk memenuhi aspirasi pasar itulah dan agenda ekonomi neo liberal figur-figur seperti Bu Sri dan Pak Budiono dimasukkan," katanya. "Pasar yang dimaksudkan adalah pasar modal dan pasar keuangan, bukan Klewer, Beringharjo, Tanah Abang atau pasar-pasar rakyat lainnya," sindir Revrisond.Reshuffle juga tidak terlepas dari peran partai politik karena sebelumnya terjadi negosiasi dengan pemerintah. "Meskipun itu tidak perlu ada pembicaraan langsung. Pasti ada pertimbangan-pertimbangan," urainya. Tekanan dari lembaga donor itu, kata Revrisond, terlihat pada fakta Indonesia masih di bawah Post Program Monitoring (PPM) IMF. "Jadi setiap 3 bulan kita masih diawasi. Dan jumlah utang kita yang belum dibayar masih US$ 9 miliar," ungkapnya."Kita juga masih memiliki utang kepada CGI sebesar US$ 82 miliar, dan karena itu juga kita masih diawasi. Kondisi terjerat utang IMF dan World Bank inilah yang membuat sulit pemerintah," ujarnya.Soal masuknya nama Paskah Suzeta dan Erman Soeparno, kata Revrisond, hal itu menimbulkan fakta jelas soal transkasi politik. "Saya kira itu pertimbangannya. Beda sekali dengan masuknya Boediono dan Sri Mulyani. Itu bagian dari tawar menawar," ujarnya. Apakah anda masih memiliki harapan kepada kabinet sekarang? "Saya anggap mazhabnya sudah berbeda. Saya melihat ini bukan angin segar, tapi ini angin topan. Ini disambut positif oleh pasar modal dan pasar uang, bukan oleh pasar tradisional seperti yang saya sebutkan tadi," ujarnya.
(mar/)











































