Raja Seni Dinobatkan di Solo
Kamis, 08 Des 2005 23:55 WIB
Solo - Rabu (7/12/2005) malam kemarin, dipilih menjadi hari baik bagi penobatan seorang raja. Raja ini dinobatkan di Solo. Dengan penobatan raja baru ini berarti menambah jumlah raja di kota yang dalam setahun terakhir sedang dilanda ontran-ontran konflik suksesi di salah satu kerajaan yang dimilikinya.Selain Mangkunegoro IX yang bertahta di Istana Mangkunegaran, Solo juga punya dua raja lainnya yaitu dua pewaris dinasti Kraton Kasunanan yang sama-sama menobatkan diri sebagai Buwono XIII, berebut tahta peninggalan ayahnya.Seolah mengejek, Rabu malam di Taman Budaya Surakarta (TBS) dinobatkan seorang raja. Raja ini disebut raja seni. Wilayahnya dan rakyatnya tidak jelas. Masa berkuasa juga sangat singkat; empat malam yaitu malam penobatan dan tiga malam berikutnya selama ada pementasan. Kewenangannya hanya menyuruh pentas tiga kelompok berpentas tiga malam berturut-turut.Penobatan Rabu Malam di Pendopo TBS cukup meriah. Lebih dari seratus orang didandani ala wayang orang. Mereka diposisikan sebagai rakyat yang mendukung penobatan. Ada pentas wayang pakeliran padat dan musik humor.Yang terpilih sebagai raja adalah Agus Fathurrohman, Wakil Bupati Sragen yang juga Ketua DPD Partai Golkar Sragen. Agus memang bukan orang baru di kalangan seniman. Jauh sebelum menjadi pejabat politik, dia adalah pegiat dunia seni dan sastra di Solo dan daerahnya. Bahkan hingga kini dia masih memimpin Serambi Sukowati, sebuah komunitas seni di Sragen.Setelah dinobatkan Agus juga mengeluarkan maklumat. Isinya, daerah kekuasannya bernama kerajaan Bangun Jiwa. Semboyan negaranya adalah kene ana ngono, kono ana ngene. "Artinya di sini ada begitu, di sana ada begini. Kalau di sini BBM mahal, di sana juga. Kalau di sana banyak yang nganggur di sini juga. Sama saja. Yang penting rukun," kata dia.Dengan pakaian kebesaran hitam-hitam dia mengenakan ikat kepala khas Jawa. Setelah itu dia menunjuk tiga kelompok kesenian untuk tampil berturut-turut dari Kamis malam hingga Sabtu malam. Setelah itu Agus kembali duduk singgasana. Mengenakan kacamata baca, dengan rileks membuka SMS sembari merokok.Rp 30 JutaPerancang acara adalah Komunitas TBS, sejumlah seniman dan aktivis yang sering nongkrong bareng di warung kompleks TBS. Pimpinan komunitas adalah Murtijono yang juga Kepala TBS. Namun Murti tegas mengatakan acara ini tidak berhubungan dengan lembaga TBS dan murni inisiatif pribadi.Mengapa harus Agus yang menjadi raja? Rupanya karena persyaratannya yang tidak bisa dipenuhi sembarang orang. Seorang raja yang dinobatkan harus membayar ke panitia minimal Rp 30 juta. Uang itu akan digunakan seluruhnya untuk membayar biaya penobatan dan kelompok yang ditunjuk sang raja untuk tampil."Penobatan pertama ini baru Mas Agus yang bersedia, mungkin karena belum tersosialisasi. Di akhir tahun 2006 nanti kita akan mengadakan lagi dengan model lelang. Harga terendah Rp 30 juta itu dan harga tertinggi tawaran tidak dibatasi. Acara ini diadakan untuk mencarikan dana kelompok-kelompok yang selama ini harus dihidupi dengan subsidi," ujar Murti.Lalu apa kesan Agus? "Tidak ada yang istimewa bagi saya, karena memang saya bukan lagi orang baru dalam komunitas aneh-aneh seperti ini. Kalau saya menyanggupi ya karena memang saya ingin mendukung maksud rekan-rekan. Di pendopo Serambi Sukowati, setiap bulan saya juga biasa mendatangkan kelompok kesenian untuk berpentas kok," ujarnya.
(mar/)











































